Blitar mungkin bukan kota yang membuat orang tergesa-gesa. Justru dalam ketenangan itulah banyak hal sederhana terasa istimewa, dari orang-orang yang tetap aktif di usia senja, makanan yang mudah dirindukan, hingga kebiasaan kecil di rumah nenek yang membuat pulang terasa seperti kembali menjadi anak-anak.

Blitar, Jatim (Rumah Simbah)-Merantau membawa seseorang pada banyak hal: mengejar cita-cita, membangun kehidupan, hingga berhadapan dengan ritme kota yang serba cepat. Namun, sejauh apa pun langkah pergi, kampung halaman sering punya cara sendiri untuk menghadirkan rindu.
Bagi sebagian orang, Blitar menjadi tempat untuk memperlambat langkah.
Kota yang tenang dan damai ini menawarkan suasana yang berbeda dari kota besar. Pulang ke Blitar bisa menjadi kesempatan untuk mengunjungi keluarga, berziarah kepada leluhur, sekaligus menikmati kembali keseharian yang dulu terasa biasa.
Salah satu yang menghangatkan hati adalah melihat orang-orang lanjut usia yang tetap sehat dan aktif menjalani kegiatan. Usia berjalan, aktivitas tetap bergerak.
Di rumah nenek, suasananya bahkan bisa lebih cair. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin terasa absurd jika dilakukan di tempat lain, tetapi justru menjadi bagian dari keseruan ketika pulang.
Di Blitar, hal sederhana memang mudah berubah menjadi kenangan.
Termasuk urusan makanan. Rumah makan hingga warung sederhana menawarkan beragam pilihan kuliner dengan rasa yang bisa membuat lidah segera merasa pulang.
Oleh-oleh pun relatif mudah ditemukan di berbagai sudut kota. Pilihannya beragam, mulai dari buah tangan sederhana hingga produk premium, dengan harga yang masih bersahabat.
Barangkali, inilah yang membuat Blitar gampang dikangeni.
Bukan kemewahan, melainkan rasa cukup yang hadir dalam banyak hal.
Lalu muncul satu khayalan yang terdengar menggiurkan:
Penghasilan Bali, pengeluaran Blitar. Ahaaay… siapa yang tidak tergoda?(Sizuka)

