Pantai Rengge di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, punya cara sendiri menyambut pengunjung. Pagi hari terasa begitu lengang, seolah pantai sedang disiapkan untuk dinikmati sendiri. Menjelang sore, suasananya berubah ketika wisatawan berdatangan, membawa keriangan, kamera, hingga berbagai aktivitas di tepi laut.
Kepulauan Seribu, Jakarta (Rumah Simbah)-Menuju Pantai Rengge di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, adalah bagian dari perjalanan yang menyenangkan. Sepeda listrik melaju menyusuri jalan setapak, membelah rimbun ilalang yang diterpa matahari pagi.
Beberapa orang berpapasan. Lalu, hamparan laut tiba-tiba muncul di ujung perjalanan.
Pantai Rengge menyambut dengan pasir bersih dan suasana lengang. Belum banyak wisatawan datang. Pantai terasa begitu lapang, nyaris seperti ruang pribadi di tepi laut.
Bandulan di bibir pantai pun menjadi tempat sempurna untuk menikmati kegirangan. Ombak datang dengan santun, menyentuh pasir lalu kembali ke laut.
Namun, suasana itu perlahan berubah.
Menjelang sore, rombongan wisatawan mulai berdatangan. Sepeda dan sepeda listrik sewaan berjajar di tepian. Pengunjung menyebar mencari tempat terbaik untuk berfoto. Sebagian memilih bersantai di hammock, sebagian lain sibuk menerbangkan drone dengan kendali sensor tangan.
Rengge yang semula terasa lengang berubah menjadi ruang bersama.
Keesokan harinya, wajah Rengge kembali berganti. Air laut surut dan kawasan mangrove terbuka untuk dijelajahi. Di antara alga dan rumput, pengunjung mencari udang serta kepiting yang bersembunyi.
Kamera pun menemukan cerita lain. Pohon mangrove menjadi objek bidikan, sementara dari udara, drone merekam sekelompok orang yang membentuk formasi.
Rengge akhirnya memperlihatkan kenyataan bahwa ruang yang indah selalu punya daya panggil.
Pagi boleh terasa seperti pantai pribadi. Sore mengajarkan bahwa keindahan juga punya ruang untuk dibagi.
Dan mungkin, di situlah Rengge menemukan rasanya.(Sizuka)




