Melarikan diri ke Pulau Pari

Melarikan diri tak selalu berarti pergi jauh. Bagi warga kota yang setiap hari berjibaku dengan rutinitas, dua hari di Pulau Pari cukup menjadi jeda untuk bernapas, menjaga kewarasan, lalu kembali menghadapi kehidupan.

Kepulauan Seribu, Jakarta (Rumah Simbah)-Rutinitas kota menuntut banyak hal: waktu, tenaga, perhatian, dan tentu saja penghasilan.

Setiap hari, ratusan ribu orang bergerak mengejar pekerjaan. Pagi berangkat, sore atau malam kembali. Esoknya, putaran yang sama dimulai lagi.

Sesekali, manusia perlu keluar dari putaran itu.

Tak harus lama. Tak harus jauh.

Dua hari di Pulau Pari menjadi pilihan untuk sekadar mengambil napas, menikmati laut, dan memberi ruang bagi kepala untuk beristirahat.

Sebab menjaga kewarasan juga bagian dari cara bertahan hidup.

Perjalanan ke Pulau Pari pun dimulai.

Dan ini baru episode pertama.

Masih ada pantai, laut, kehidupan warga, dan berbagai cerita yang menunggu untuk ditemukan.(Sizuka)

Selasar Pelabuhan Muara Angke, para calon penumpang menuju kapal. (Rumah Simbah/Sizuka)
Lanskap Pelabuhan Muara Angke yang dipotret dari kabin KM Paus Dua (25/8/2026). (Rumah Simbah/Sizuka)
Kesibukan Pelabuhan Pulau Pari, Kepulauan Seribu yang dipotret pada 25 Agustus 2026.
Para penumpang hendak naik ke KM Paus Dua dari Dermaga Pulau Pari. (Rumah Simbah/Sizuka)
Berbagai jenis kapal yang melayani penyeberangan ke Kepulauan Seribu. (Rumah Simbah/Sizuka)
Menangkup matahari pagi di Pantai Pasir Perawan. (Rumah Simbah/Sizuka)

Leave a Reply