Setiap Agustus, kata merdeka kembali memenuhi ruang-ruang perayaan. Bendera berkibar, lagu perjuangan dinyanyikan. Tapi di luar seremoni, sudahkah kita benar-benar menjadi manusia merdeka?

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Setiap Agustus, kata merdeka kembali memenuhi ruang-ruang perayaan.
Bendera dikibarkan, lagu perjuangan dinyanyikan, lomba digelar. Kita mengenang kemerdekaan sebagai sebuah peristiwa besar yang diperjuangkan para pendahulu.
Tetapi kemerdekaan juga punya ruang yang lebih dekat: diri sendiri.
Sebab menjadi bangsa yang merdeka belum otomatis membuat setiap orang menjadi manusia merdeka.
Lalu, seperti apa manusia merdeka?
Pertama, berdikari.
Mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengupayakan kehidupan dengan kemampuan yang dimiliki, dan tidak menjadikan ketergantungan sebagai gaya hidup.
Kedua, menjadi pelopor, bukan pengekor.
Manusia merdeka tidak menyerahkan arah hidupnya kepada tren. Ia boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap mampu menentukan apa yang memang sesuai dengan kebutuhan dan nilai yang diyakininya.
Ketiga, punya sikap dan pendirian.
Merdeka berarti punya keberanian untuk menentukan pilihan. Tidak semua pendapat harus diikuti. Tidak semua ajakan harus diterima. Ada saatnya berkata “ya”, ada saatnya pula berkata “tidak”.
Keempat, menjaga martabat diri.
Mengetahui nilai diri tidak berarti merasa lebih tinggi dari orang lain. Harga diri justru tumbuh ketika seseorang mampu hidup sesuai kemampuannya, tanpa perlu membangun citra dengan cara yang melampaui kemampuan.
Kelima, tahu batas kemampuan finansial.
Berutang untuk kegiatan produktif, dengan perhitungan yang sehat dan melalui lembaga keuangan resmi, tentu berbeda dengan berutang demi memenuhi gengsi atau tuntutan gaya hidup.
Sebab setiap utang membawa kewajiban.
Ketika kewajiban terlalu banyak, ruang untuk menentukan hidup sendiri ikut menyempit.
Di sinilah kemerdekaan personal menemukan maknanya.
Manusia merdeka tetap membutuhkan orang lain. Ia tetap bekerja sama, menerima bantuan, berteman, bermasyarakat, dan hidup berdampingan.
Yang dijaganya adalah kendali atas dirinya sendiri.
Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan.
Dalam skala personal, kemerdekaan adalah kemampuan untuk menentukan hidup sendiri, menjaga martabat, dan tidak menyerahkan keputusan hidup kepada tekanan lingkungan.
Maka setelah bendera diturunkan dari tiang dan pesta Agustusan selesai, barangkali ada satu pertanyaan yang layak dibawa pulang: Sudahkah kita menjadi manusia merdeka?(Sizuka)

