Yang diundang ke Baitulloh

Dalam setiap perjalanan ke Tanah Suci, selalu ada dua cerita yang berjalan berdampingan: mereka yang berangkat dengan penuh kegembiraan, dan mereka yang tetap menjaga harapan dalam penantian. Di balik itu, terselip pelajaran tentang siapa yang benar-benar “dipanggil”. Berikut adalah video serial “Rihlah Batin” episode 2:

Mekkah, Saudi Arabia (Rumah Simbah)-Dalam setiap perjalanan ke Tanah Suci, selalu ada dua cerita yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, ada kegembiraan mereka yang berangkat, menapaki perjalanan dengan hati penuh syukur. Di sisi lain, ada mereka yang masih menunggu, tetap menjaga harapan meski langkahnya belum sampai ke sana.

Realita ini kerap mengundang tanya. Sebab, tidak semua yang mampu secara finansial dan waktu benar-benar berangkat. Ada yang secara hitungan sudah cukup, namun perjalanan itu seolah belum juga menjadi bagian dari takdirnya.

Sebaliknya, tak jarang kita melihat mereka yang tampak sederhana, bahkan serba terbatas, justru diberi jalan untuk sampai ke Tanah Suci. Seakan ada pintu-pintu yang terbuka tanpa diduga, memudahkan langkah yang sebelumnya terasa mustahil.

Dari sini, kita belajar bahwa perjalanan ke Baitulloh bukan semata soal kesiapan manusia. Ia tidak sepenuhnya tunduk pada perhitungan logika. Ada dimensi lain yang bekerja secara sunyi, yang tak selalu bisa dijelaskan dengan angka dan rencana.

Sebuah panggilan, yang mungkin tak terdengar oleh telinga, namun sampai ke hati. Panggilan yang menggerakkan langkah, membuka jalan, dan menghadirkan kemudahan di waktu yang tepat.

Ketika panggilan itu datang, yang sulit perlahan menjadi mungkin. Yang jauh terasa dekat. Dan yang semula hanya rencana, berubah menjadi kenyataan.

Perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya tentang siapa yang mampu, tetapi tentang siapa yang diundang. Sebab banyak yang merasa siap, namun belum berangkat. Sementara mereka yang benar-benar dipanggil, akan selalu dimampukan untuk sampai.(Aldi)

Leave a Reply