Busana selera purba

Di zaman modern, pakaian harusnya berkembang. Tapi ketika kain makin mengecil dan keberanian makin membesar, kita patut bertanya…apakah tren ini maju, atau kita diam-diam pulang ke masa purba? Ulasannya tersaji dalam video di bawah ini:

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Di zaman modern, pakaian seharusnya ikut berkembang. Ia lahir dari peradaban yang bergerak maju—dari kebutuhan dasar, menuju estetika, lalu etika.

Namun hari ini, saat kain justru makin menyusut dan keberanian makin dibesarkan, kita patut bertanya: apakah ini benar-benar kemajuan, atau kita sedang diam-diam pulang ke masa purba?

Pada masa purba, manusia mengenakan apa saja yang bisa menutup tubuh. Kulit binatang, serat pohon, atau daun yang dirangkai seadanya. Bukan karena ingin tampil menarik, apalagi bergaya, melainkan karena itulah yang mereka miliki dan mampu mereka buat. Pakaian kala itu adalah hasil keterbatasan, bukan pilihan.

Dunia kemudian berputar. Manusia belajar menenun, menjahit, memberi makna pada busana. Pakaian tak lagi sekadar pelindung tubuh, melainkan penanda martabat, identitas, dan peradaban.

Ia berbicara tentang nilai, tentang bagaimana manusia memandang dirinya sendiri dan orang lain.

Namun entah di persimpangan sejarah yang mana, sebagian anak muda hari ini justru terlihat menoleh ke belakang. Busana yang hanya menutup seperlunya, celana yang nyaris tak melindungi wilayah paling pribadi, atasan yang compang-camping seolah sisa kain dari pertempuran dengan naluri sendiri. Semua dibingkai sebagai tren, sebagai ekspresi kebebasan, sebagai simbol keberanian.

Masalahnya, tidak semua yang diberi label “tren” otomatis layak disebut kemajuan. Ada kalanya ia lebih mirip nostalgia yang salah alamat—pengulangan bab paling primitif dalam sejarah manusia, hanya dengan kemasan kamera HD dan algoritma media sosial.

Dalam budaya kita, tubuh bukanlah pajangan. Ada rasa malu yang dijaga, ada hormat yang diwariskan. Bukan untuk mengekang, melainkan untuk mengingatkan bahwa manusia hidup berdampingan, bukan sendirian di panggung bebas nilai.

Pakaian, dalam konteks ini, bukan semata kain penutup, melainkan cara merawat martabat—baik milik diri sendiri, maupun orang lain.

Ulasan ini bukan ajakan untuk memusuhi generasi tertentu, apalagi menghakimi selera personal. Ia hanya sebuah undangan untuk berpikir ulang: ketika kita menyebut sesuatu sebagai modern, apakah ia sungguh membawa kita maju sebagai manusia, atau sekadar membuat kita lupa bahwa peradaban seharusnya bertumbuh, bukan berputar di tempat yang sama—bahkan mundur ke titik paling awalnya.(Red.)

Leave a Reply