Tidak semua orang liburan di akhir tahun. Dan itu tidak apa-apa.

Badung, Bali (Rumah Simbah)-Menjelang akhir tahun, ruang publik selalu dipenuhi satu kata yang sama: liburan. Jalanan padat, bandara sesak, hotel penuh, media sosial riuh oleh potongan bahagia yang nyaris seragam. Seolah-olah, menutup tahun harus dilakukan dengan pergi—jauh, ramai, dan terlihat menyenangkan.
Padahal, tidak semua orang berada di posisi yang sama. Tidak semua punya kesempatan, tenaga, atau bahkan keinginan untuk ikut dalam arus itu. Dan penting untuk mengatakan ini sejak awal: tidak semua orang liburan di akhir tahun, dan itu tidak apa-apa.
Akhir tahun memang sering diperlakukan seperti panggung besar. Ada hitung mundur, pesta, kembang api, dan daftar resolusi yang ditulis dengan semangat sesaat. Namun di balik keramaian itu, ada banyak manusia yang justru sedang lelah—secara fisik, emosional, maupun mental. Lelah yang tidak selalu selesai hanya dengan berpindah tempat.
Di satu sisi, ada mereka yang menutup tahun dengan perjalanan mewah: melintasi langit, mendarat di hotel berbintang, menikmati jamuan dan hiburan yang dirancang sempurna. Di sisi lain, ada pula yang menutup tahun dengan cara yang jauh lebih sederhana: menyapu halaman rumah, merapikan sisa hari, atau duduk diam menunggu senja turun. Dua-duanya sama sah. Dua-duanya adalah cara bertahan.
Masalahnya, budaya populer kerap membuat kita percaya bahwa satu cara lebih bernilai daripada yang lain. Bahwa pergi lebih baik daripada tinggal. Bahwa ramai lebih sehat daripada sunyi. Bahwa bahagia harus ditunjukkan, bukan dirasakan. Tanpa sadar, akhir tahun berubah dari momen jeda menjadi kewajiban sosial.
Padahal, refleksi tidak selalu lahir dari perjalanan jauh. Ia bisa muncul dari aktivitas paling biasa, ketika tubuh diberi waktu untuk berhenti dan pikiran diberi ruang untuk bernapas. Dalam konteks ini, liburan seharusnya bukan soal destinasi, melainkan pemulihan.
Ada orang yang pulih saat berjalan di pantai. Ada yang pulih justru ketika tidak ke mana-mana. Ada yang menemukan tenang di tengah pesta. Ada pula yang menemukannya di halaman rumah sendiri. Yang sering kita lupa: pemulihan bersifat personal. Tidak bisa diseragamkan, apalagi diperlombakan.
Akhir tahun tidak wajib dirayakan dengan gegap gempita. Ia juga boleh dilewati dengan sederhana. Tanpa unggahan, tanpa resolusi panjang, tanpa rasa tertinggal. Sebab hidup bukan lomba siapa paling jauh pergi, melainkan siapa yang cukup jujur mendengarkan kebutuhannya sendiri.
Pada akhirnya, akhir tahun hanyalah batas waktu dalam kalender. Yang membuatnya bermakna bukan seberapa meriah ia dirayakan, tetapi seberapa jujur kita memberi diri sendiri ruang untuk berhenti, menilai ulang, dan melanjutkan hidup dengan lebih utuh.
Karena memang, di akhir tahun—seperti juga dalam hidup—ada banyak jalan untuk pulang.(Vic)

