Melarikan diri tak selalu berarti pergi jauh. Bagi warga kota yang setiap hari berjibaku dengan rutinitas, dua hari di Pulau Pari cukup menjadi jeda untuk bernapas, menjaga kewarasan, lalu kembali menghadapi kehidupan.
Kepulauan Seribu, Jakarta (Rumah Simbah)-Rutinitas kota menuntut banyak hal: waktu, tenaga, perhatian, dan tentu saja penghasilan.
Setiap hari, ratusan ribu orang bergerak mengejar pekerjaan. Pagi berangkat, sore atau malam kembali. Esoknya, putaran yang sama dimulai lagi.
Sesekali, manusia perlu keluar dari putaran itu.
Tak harus lama. Tak harus jauh.
Dua hari di Pulau Pari menjadi pilihan untuk sekadar mengambil napas, menikmati laut, dan memberi ruang bagi kepala untuk beristirahat.
Sebab menjaga kewarasan juga bagian dari cara bertahan hidup.
Perjalanan ke Pulau Pari pun dimulai.
Dan ini baru episode pertama.
Masih ada pantai, laut, kehidupan warga, dan berbagai cerita yang menunggu untuk ditemukan.(Sizuka)







