Terima kasih, Pak Tani…

Di balik sepiring nasi yang kita santap setiap hari, ada perjalanan panjang yang sering terlupakan. Dari lumpur sawah hingga ke meja makan, tangan-tangan petani bekerja dalam ketekunan, menanam harap agar kita bisa menikmati hidup hari ini.

Bogor, Jawa Barat (Rumah Simbah)-Sepiring nasi di hadapan kita sering habis tanpa cerita. Ia hadir seperti sesuatu yang wajar, nyaris tanpa jejak perjalanan. Kita menyantapnya di sela kesibukan, kadang tergesa, tanpa sempat bertanya: dari mana ia berasal, dan siapa yang menanamnya.

Padahal, nasi tidak lahir di dapur. Ia tumbuh dari tanah yang dibajak dengan saksama, dari lumpur yang dipijak setiap hari, dari punggung-punggung yang akrab dengan terik matahari. Di sawah-sawah yang terbentang, para petani bekerja dalam ketekunan, menanam benih dengan harap yang sederhana: agar kita bisa makan hari ini.

Dari Bogor, Yogyakarta, hingga Bali, bentang alam boleh berbeda, tetapi doa yang menyertainya serupa. Ada ketekunan yang tak banyak disorot, ada kerja yang jarang dipuji. Setiap bulir padi yang dipanen membawa serta waktu, tenaga, dan keyakinan yang tidak singkat.

Namun di sisi lain, kita sering menyisakan nasi di piring. Barangkali karena kita tak pernah benar-benar mengenal siapa yang menanamnya. Ketika asal-usul terasa jauh, rasa hormat pun perlahan memudar.

Maka, makan seharusnya bukan sekadar urusan kenyang. Ia bisa menjadi ruang kesadaran, tempat kita mengingat bahwa setiap suapan menyimpan cerita panjang tentang alam, manusia, dan campur tangan Tuhan yang tak terlihat.

Terima kasih, petani. Dari tanganmu, kami belajar bahwa rezeki tidak pernah hadir begitu saja. Ia tumbuh, dirawat, dan diperjuangkan.

Barangkali, yang perlu kita pelajari kembali bukan hanya cara mencari makan, tetapi juga cara menghargainya. Bukan sekadar menghabiskan, tetapi memahami. Sebab dari situlah rasa syukur menemukan jalan pulang.(Sizuka)

Leave a Reply