Di tengah dunia yang memuja sorotan dan tepuk tangan, ada sekelompok orang yang justru memilih berjalan pelan dalam sunyi. Dari abdi dalem, kita belajar satu hal: tidak semua kehormatan perlu diumumkan. Ramadhan pun datang membawa pertanyaan yang sama, tentang kepada siapa sesungguhnya kita menghamba.

Yogyakarta (Rumah Simbah)-Di setiap perjalanan, ada tempat yang kita datangi. Dan ada makna yang kita temui.
Di kota ini, abdi dalem hidup dalam ritme yang nyaris tak terdengar. Mereka mengabdi tanpa gemerlap, setia pada peran yang mungkin tak pernah masuk tajuk utama. Namun justru dari kesederhanaan itulah, kita belajar satu pelajaran penting: tidak semua kehormatan perlu diumumkan.
Kata “menghamba” sering terdengar asing di telinga modern. Kita menganggapnya istilah lama, seolah bertentangan dengan semangat kebebasan. Kita pun merasa telah jauh meninggalkan zaman jahiliyyah yang menyembah berhala.
Namun, jika direnungkan lebih dalam, berhala hari ini tak lagi berupa patung yang dipahat dari batu. Ia menjelma dalam bentuk yang lebih halus dan diterima. Harta yang dikejar tanpa jeda. Jabatan yang dipertahankan dengan segala cara. Pengakuan yang diburu hingga lupa diri. Pesona dunia yang membuat kita rela menggadaikan waktu, tenaga, bahkan nurani.
Tanpa sadar, kita mungkin sedang membangun altar kecil dalam hati masing masing.
Ramadhan hadir bukan sekadar sebagai bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah kompas. Ia mengingatkan kembali arah penghambaan yang kerap melenceng. Ia menegaskan bahwa pada akhirnya, manusia memang tidak pernah benar benar bebas dari menghamba. Yang membedakan hanyalah kepada siapa penghambaan itu diberikan.
Sebab sejatinya, manusia yang paling merdeka adalah mereka yang hanya menghamba kepada Sang Penguasa Jagat Raya. Ketika penghambaan tertuju pada Yang Maha Kuasa, dunia tak lagi menjadi tuan, melainkan sekadar titipan.
Maka mungkin, yang perlu kita benahi bukan semangat kebebasan, melainkan arah ketundukan. Karena di situlah letak kemerdekaan yang sesungguhnya.(Sizuka)

