Di dapur, tawa, dan lesehan di gazebo, pulang kadang hadir tanpa perjalanan jauh. Keseruan malam tahun baru di Rumah Simbah tergambar dalam video berikut:

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Menjelang malam, sebuah mobil memasuki halaman Rumah Simbah. Tidak ada koper besar, tidak ada jadwal liburan yang dipamerkan. Yang turun lebih dulu justru senyum, disusul sapaan hangat yang segera membuat jarak menguap begitu saja.
Selepas Maghrib, dapur mengambil alih panggung. Kubah perapian dinyalakan, api mulai berkobar, dan sesi bakar-bakaran dimulai tanpa aba-aba. Ikan disusun di atas bara, ayam disiapkan perlahan, sementara asap tipis naik membawa aroma yang akrab—aroma yang biasanya hanya muncul ketika rumah sedang ramai.
Di sudut dapur, seorang anak kecil tampak serius mengoles bumbu pada ikan. Usianya baru tujuh tahun, tapi gerakannya penuh tekad. Katanya, ia ingin jadi koki. Di saat yang sama, seorang balita memilih peran berbeda: rusuh, mondar-mandir, mengganggu ibunya yang sedang mengulek sambal. Kekacauan kecil itu justru membuat dapur terasa hidup.
Resep malam itu tidak tertulis di kertas. Ia hidup di ingatan. Seorang nenek menangani ayam pejantan yang berendam manja di panci, menyerap kuah bumbu taliwang yang diracik tanpa takaran pasti. Tangan-tangan tua itu bergerak tenang, seolah tahu betul kapan harus menunggu dan kapan harus membalik.
Satu per satu, hidangan ditata di atas tampah. Tidak ada nama menu yang diumumkan, tidak ada foto resmi sebelum makan. Makanan disiapkan untuk satu tujuan sederhana: dimakan bersama.
Gazebo kemudian menjadi tujuan akhir. Lesehan digelar, makanan berpindah tangan, tawa muncul tanpa perlu dipancing. Tidak ada yang sedang membahas rencana besar. Tidak ada yang sibuk menjelaskan siapa paling lelah hari ini. Malam itu berjalan pelan, seolah waktu memilih untuk tidak tergesa.
Menutup tahun tidak selalu harus dengan panggung, hitung mundur, atau sorak-sorai. Kadang, ia cukup ditandai oleh api yang berkobar di dapur, tawa anak-anak, dan kebersamaan yang apa adanya.
Beberapa malam memang tidak perlu diumumkan. Cukup diingat—sebagai pengingat bahwa pulang kadang sesederhana ini.(Rieka)

