Purbaya Yudhi Sadewa menjadi salah satu sosok yang paling ramai diperbincangkan dalam urusan keuangan negara. Cara bicaranya yang lugas, keberaniannya membicarakan angka, serta langkah-langkah pembenahan yang dilakukannya memunculkan beragam reaksi.
Rumah Simbah merekam riuh itu dalam empat episode. Dimulai dari satire “Jangan jadi Purbaya”, berlanjut ke “Memecat (tidak) dengan hormat”, lalu membawa Purbaya menjadi “koboi keuangan”, hingga pertanyaan yang lebih besar lewat “Purbaya di sarang penyamun”.
Empat video, satu benang merah: tentang seorang penunggang, kuda yang ditungganginya, dan sistem yang diharapkan bisa lebih tenang ketika sang penunggang akhirnya turun dari pelana.




Jakarta, (Rumah Simbah)- Ada masa ketika seorang pejabat keuangan tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan publik bukan karena pidato panjang, melainkan karena cara ia bicara tentang angka.
Purbaya Yudhi Sadewa hadir dengan gaya yang lugas. Angka dibawa ke ruang publik. Persoalan fiskal dibicarakan dengan bahasa yang lebih terbuka. Pembenahan dilakukan dengan langkah yang kadang memunculkan perdebatan.
Di negeri yang urusan anggarannya sering terasa seperti ruang penuh pintu tertutup, gaya semacam itu tentu mengundang perhatian.
Lalu kita mengenal sebuah ironi: jangan terlalu jujur, jangan terlalu berani, jangan terlalu cerewet soal angka, jangan terlalu sibuk membenahi. Nasihat yang terdengar konyol, sampai kita menyadari bahwa satire itu sebenarnya sedang bertanya tentang sesuatu yang lebih serius.
Seberapa jauh seorang pejabat bisa bergerak ketika niat membenahi harus berhadapan dengan kepentingan yang sudah lebih dulu tertanam?
Kekuasaan selalu punya mekanismenya sendiri. Orang bisa datang dengan gagasan, membawa angka, menyusun kebijakan, lalu pada suatu titik harus berhadapan dengan keputusan yang berada di luar kendalinya.
Di situlah metafora koboi menjadi menarik.
Bayangkan seorang penunggang kuda melaju kencang. Kudanya bukan sekadar kuda, melainkan sistem keuangan dengan segala angka, kepentingan, kebijakan, dan tarik-menariknya. Sang penunggang mungkin merasa memegang kendali. Namun kuda yang besar selalu punya tenaga dan arah yang tidak sepenuhnya tunduk kepada penunggang.
Ketika sang koboi akhirnya terlempar dari pelana, pertanyaannya bukan cuma siapa yang jatuh.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: apa yang terjadi dengan kuda dan sarang yang ditinggalkannya?
Sebab pergantian orang tidak otomatis mengubah sistem. Angka-angka tetap berjalan. Kepentingan tetap mencari ruang. Kebiasaan lama bisa saja kembali menemukan jalannya.
Maka cerita tentang Purbaya pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang pejabat yang naik, lalu turun.
Ini cerita tentang keberanian membenahi, tentang kekuasaan yang tidak pernah sederhana, dan tentang seorang penunggang yang harus berhadapan dengan kuda sekaligus arena tempat kudanya berlari.
Dan ketika sang koboi tumbang, kita justru bisa melihat dengan lebih jelas: siapa yang sebenarnya mengendalikan kuda itu.(Asvir)

