Ada fase hidup yang pelan-pelan datang… saat orang tua tak lagi hanya diasuh oleh waktu, tapi juga oleh kesabaran kita. Ulasannya tersaji dalam video berikut:

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Ada fase hidup yang datang tanpa pengumuman. Tidak membawa sirene, tidak pula mengetuk keras. Ia hadir pelan-pelan, sering kali baru kita sadari setelah beberapa momen berlalu. Fase ketika orang tua tak lagi hanya kita temani, tetapi perlahan kita asuh.
Pagi-pagi buta, sebagian orang tua sudah sibuk dengan urusan kecil yang bagi mereka terasa besar. Menyapu halaman, membersihkan kandang, memastikan sekitar rumah tetap rapi. Bukan karena diminta, melainkan karena masih ingin merasa berguna. Di usia senja, kebutuhan untuk berarti tidak pernah benar-benar hilang.
Ada pula yang membawa kebiasaan dari kampung ke rumah anaknya. Berkebun, menanam bibit yang sengaja dibawa jauh-jauh, memanen tanaman yang ditunggu-tunggu. Aktivitas sederhana itu bukan sekadar hobi. Ia adalah cara halus untuk berkata, “aku masih bisa,” sekaligus cara lain meninggalkan jejak di ruang hidup anak-anaknya.
Mengasuh orang tua juga penuh momen geli. Mereka bisa begitu bersemangat diajak ke pusat perbelanjaan. Mencoba sandal baru, memilih baju lebaran, tersenyum di depan cermin seperti anak kecil yang baru mengenal dunia belanja. Hal-hal kecil yang bagi kita sepele, bagi mereka adalah kebahagiaan yang layak dirayakan.
Naluri mengasuh bahkan tak berhenti pada manusia. Hewan peliharaan pun ikut dirawat, dipakaikan kalung dan baju baru. Merawat memang sudah menjadi bagian dari diri mereka. Peran itu melekat, meski usia terus bertambah.
Lalu datang hari pulang. Ironisnya, justru di momen inilah sisi ‘kanak-kanak’ itu paling terasa. Baju lebaran sudah dikenakan jauh sebelum waktunya. Pagi-pagi sekali sudah mandi dan rapi, tak sabar menunggu jam keberangkatan. Seperti bocah yang takut terlambat berangkat rekreasi, padahal masih banyak waktu tersisa.
Di pool bus, mereka menenteng tas sendiri, berjalan pelan namun mantap. Anak atau menantu mendampingi, memastikan nomor kursi benar, membantu naik, lalu berpamitan. Ada sungkem, ada pelukan singkat, ada percakapan kecil yang sengaja dibuat ringan agar perpisahan tak terasa berat.
Bus akhirnya berangkat. Dari kejauhan, kita melihatnya pergi membawa bukan hanya koper, tetapi juga peran yang diam-diam telah berubah. Orang tua kembali ke rumahnya, sementara kita pulang dengan kesadaran baru.
Mengasuh orang tua bukan perkara mudah. Ia bukan ilmu pasti, melainkan seni. Seni membaca suasana, menahan emosi, mengulang penjelasan, dan menerima bahwa suatu hari, mereka memang akan kembali seperti anak-anak. Bedanya, kini merekalah yang membawa cerita panjang, dan kitalah yang belajar sabar mendengarkannya.
Di fase ini, kita belajar bahwa kasih sayang tak selalu berbentuk nasihat atau pengorbanan besar. Kadang ia hadir dalam bentuk menemani, membiarkan mereka merasa berguna, dan tersenyum saat tingkahnya mengingatkan kita pada masa kecil.
Seni mengasuh orang tua adalah seni menerima perubahan. Tentang peran yang perlahan bertukar arah, tentang cinta yang tak lagi berjalan satu arah, dan tentang pulang yang akhirnya kita pahami dengan cara yang berbeda.(Zee)

