MBG, sejauh negara masuk ke dapur warga

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa niat baik: memastikan anak-anak mendapat asupan bergizi sekaligus membantu keluarga. Namun, ketika negara masuk hingga mengatur urusan makanan, bagaimana dengan batas peran negara. Sebab, membangun generasi sehat bukan hanya soal mengisi piring, tetapi juga memastikan keluarga punya daya untuk mengisinya sendiri.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dengan tujuan yang mudah dipahami: memastikan anak-anak mendapat makanan bergizi dan meringankan beban keluarga.

Namun, ketika negara masuk hingga ke meja makan, sejauh mana negara perlu hadir dalam urusan dapur warga?

Dapur bukan sekadar tempat memasak. Di sana keluarga belajar mengatur kebutuhan, memilih makanan, menghitung kemampuan, dan mengambil keputusan untuk kehidupannya sendiri.

Karena itu, bantuan pangan perlu dilihat bukan hanya dari apa yang diberikan, tetapi juga dari kemampuan apa yang dibangun.

Ada pepatah: berikan kail, bukan ikan.

Dalam konteks MBG, negara bukan hanya memberikan ikan. Ikan itu sudah dimasak, ditakar, dikemas, bahkan wadah makannya ikut diurus.

Pertanyaannya, apakah pendekatan semacam ini cukup untuk membangun keluarga yang mandiri?

Sebab, negara juga punya pekerjaan yang lebih mendasar: memastikan harga pangan terjangkau, pendapatan mencukupi, pekerjaan tersedia, serta pendidikan dan kesehatan dapat diakses dengan baik.

Generasi sehat tidak lahir hanya dari piring yang terisi. Ia juga tumbuh dari keluarga yang memiliki daya untuk memenuhi kebutuhannya.

Di sinilah batas peran menjadi penting.

MBG bukan semata soal makanan gratis. Ini juga tentang bagaimana negara membantu tanpa mengambil alih, hadir tanpa mengurangi ruang keluarga, dan memberi dukungan tanpa membuat warga kehilangan daya untuk berdiri dengan kemampuannya sendiri.

Sebab, yang dibutuhkan warga bukan hanya makanan untuk hari ini, tetapi kemampuan untuk mengisi piringnya sendiri esok hari.(Sizuka)

Leave a Reply