Bagi Jakarta, laut bukan sekadar bentang air yang memisahkan daratan dan pulau-pulau. Di sana ada jalan lain yang setiap hari dilalui warga dan wisatawan. Kapal-kapal bernama Paus menjadi salah satu penghubungnya, membawa penumpang dari Muara Angke menuju Kepulauan Seribu dan sebaliknya.
Kepulauan Seribu, Jakarta (Rumah Simbah)-Ada Jakarta yang sibuk dengan jalan raya. Ada Jakarta yang berlari di antara gedung-gedung tinggi. Ada pula Jakarta yang setiap hari menyeberangi laut.
Dari Muara Angke, kapal-kapal bernama Paus membawa warga dan wisatawan menuju Kepulauan Seribu. Dermaga menjadi titik awal perjalanan, sementara laut menjadi jalan raya yang membentang di antara pulau-pulau.
Bagi wisatawan, laut adalah pemandangan. Bagi warga Kepulauan Seribu, laut adalah jarak yang harus ditempuh ketika memiliki urusan ke daratan.
Karena itu, kapal bukan sekadar kendaraan. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Membawa orang berangkat, menjemput kepulangan, mengantar wisatawan berlibur, sekaligus menjaga hubungan antara pulau dan Jakarta tetap terbuka.
Sebagai transportasi publik, kapal-kapal ini menawarkan perjalanan yang relatif cepat dan nyaman dengan tarif yang terasa ringan, terutama bagi wisatawan. Ada pengalaman yang sedikit mengherankan ketika menjadi penumpang: kapal cukup nyaman, pelayanan ramah, perjalanan cepat, tetapi harga tiketnya terasa murah untuk sebuah perjalanan laut.
Di situlah transportasi publik menunjukkan maknanya. Negara hadir bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan membuat jarak terasa lebih dekat dan akses menjadi lebih terjangkau.
Kini, layanan transportasi laut Kepulauan Seribu direncanakan memasuki babak baru. Pengelolaannya akan beralih kepada TransJakarta, dengan sistem yang masih dalam proses penataan.
Apa pun perubahan yang kelak terjadi, lautnya tetap sama. Warga pulau tetap membutuhkan jalan untuk menyeberanginya.
Dan Paus, yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan itu, telah meninggalkan jejak dalam ingatan banyak penumpangnya.(Sizuka)




