Gara-gara si Desil

Fenomena data desil kesejahteraan yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi riil warga memicu kegaduhan di berbagai daerah. Ada pekerja kasar yang tercatat dalam desil tinggi, sementara warga yang secara ekonomi lebih mapan justru masuk desil rendah. Persoalan menjadi serius ketika posisi desil ikut menjadi pijakan penentuan penerima bantuan dan program perlindungan sosial pemerintah.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Ada yang mendadak kaya gara-gara si Desil. Ada yang tiba-tiba jatuh miskin karena ulah si Desil.

Begitulah kira-kira kegaduhan yang muncul di tengah masyarakat setelah sejumlah warga mendapati posisi desil kesejahteraannya dianggap jauh dari kondisi kehidupan mereka.

Pekerja kasar bisa tercatat dalam desil tinggi. Sebaliknya, orang yang secara ekonomi lebih mapan justru tercatat dalam desil rendah. Fenomena itu kemudian menjadi bahan tertawaan sekaligus umpatan.

Ditertawakan karena hasilnya terasa janggal. Diumpat ketika angka tersebut berdampak pada hak warga.

Sebab, desil bukan sekadar angka di layar. Peringkat kesejahteraan keluarga digunakan sebagai salah satu dasar dalam menentukan sasaran berbagai program bantuan dan perlindungan sosial pemerintah.

Ketika seorang warga yang hidup pas-pasan masuk desil tinggi, persoalannya menjadi lebih serius. Posisi tersebut dapat membuatnya dianggap lebih sejahtera dan berpengaruh terhadap aksesnya terhadap bantuan.

Lalu, bagaimana sebenarnya Desil bekerja?

Data apa saja yang digunakan untuk menentukan posisi sebuah keluarga? Kapan data tersebut diperbarui? Dan seberapa sering kondisi warga di lapangan dicocokkan dengan data dalam sistem?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena kehidupan warga terus bergerak. Penghasilan bisa berubah, pekerjaan bisa hilang, anggota keluarga bisa bertambah, dan kondisi ekonomi rumah tangga bisa berubah dalam hitungan bulan.

Data penting untuk membantu negara mengambil keputusan, karenanya data seharusnya memotret kehidupan warga senyatanya.

Ketika angka sudah menjadi pijakan kebijakan, kesalahan menempatkan seseorang dalam sebuah desil bukan lagi sekadar kesalahan administrasi. Ada hak warga yang bisa ikut bergeser gara-gara si Desil.(Sizuka)

Leave a Reply