Festival Sahur-Sahur, orkestra dini hari di Mempawah

Tabuhan bambu, kaleng, dan berbagai benda bekas memecah sunyi malam Ramadhan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Melalui Festival Sahur-Sahur, ratusan kelompok masyarakat berparade mengelilingi kota, menghadirkan “orkestra dini hari” yang lahir dari tradisi lama membangunkan warga untuk makan sahur. Berikut video keseruannya:

Mempawah, Kalbar (Rumah Simbah)-Di banyak tempat, sahur dibangunkan oleh alarm ponsel. Namun di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, waktu sahur justru disambut oleh “orkestra” tradisi yang lahir dari tabuhan bambu, kaleng, dan berbagai benda sederhana lainnya.

Irama itulah yang terdengar dalam Festival Sahur-Sahur, tradisi khas masyarakat Mempawah yang kembali digelar tahun ini. Ratusan kelompok masyarakat ikut ambil bagian dalam perayaan budaya yang telah menjadi agenda tahunan tersebut.

Para peserta berparade mengelilingi kota sambil menabuh berbagai alat sederhana yang disulap menjadi instrumen perkusi. Tabuhan ritmis itu mengalun di udara malam Ramadhan, mengubah suasana yang biasanya sunyi menjelang sahur menjadi meriah dan penuh semangat kebersamaan.

Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menilai tradisi Sahur-Sahur memiliki keunikan tersendiri karena lahir dari kebiasaan masyarakat membangunkan warga untuk makan sahur secara turun-temurun.

“Kegiatan sahur tahun ini adalah implementasi dari bagaimana masyarakat membangunkan orang untuk bangun dan makan sahur. Ini merupakan budaya turun-temurun yang ada di Indonesia, terutama di Kabupaten Mempawah,” kata Ria Norsan.

Ia menambahkan, tradisi tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas di tingkat provinsi. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan dapat melibatkan perwakilan dari 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.

Secara historis, tradisi Sahur-Sahur berawal dari kebiasaan warga yang berkeliling kampung sambil menabuh alat sederhana untuk membangunkan tetangga agar tidak terlewat makan sahur sebelum fajar tiba.

Seiring waktu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi festival budaya yang tidak hanya meramaikan malam Ramadhan, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat setempat.

Bagi warga Mempawah, tabuhan sahur bukan sekadar bunyi yang memecah sunyi dini hari. Ia menjadi cara sebuah kota menjaga ingatan tentang kebersamaan.

Di tengah zaman ketika alarm digital berbunyi dari ponsel masing-masing, tradisi ini mengingatkan bahwa membangunkan sahur pernah dilakukan dengan cara yang lebih sosial: manusia berjalan dari kampung ke kampung, menabuh alat sederhana, dan saling membangunkan.

Tradisi itu pula yang terus dirawat masyarakat Mempawah, agar Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar, tetapi juga sebagai momen membangunkan kebersamaan.(Budi)

Seremoni pembukaan Festival Sahur-Sahur dari panggung utama. (Rumah Simbah/Budi)
Gubernur Ria Norsan melepas peserta parade Sahur-Sahur. (Rumah Simbah/Budi)
Salah satu kelompok peserta parade dengan kostum dan aksesori ala Timur Tengah. (Rumah Simbah/Budi)

Leave a Reply