Di pengujung tahun, Bali kembali menjadi ruang yang menampung banyak hal sekaligus: hujan, pesta, langkah tergesa, dan letupan sesaat. Ketika ribuan orang datang membawa euforia, pulau ini tetap bekerja—diam-diam menanggungnya.

Badung, Bali (Rumah Simbah)-Menjelang pergantian tahun, Bali selalu hadir sebagai jawaban atas satu kebutuhan yang sama: ingin beristirahat. Pulau ini diproyeksikan sebagai ruang lepas penat, tempat segala beban seolah bisa ditinggalkan begitu kaki menjejak pasir atau pintu vila tertutup rapat.
Namun di balik citra itu, ada lapisan lain yang jarang disorot. Di pengujung tahun, Bali tidak hanya menerima tamu—ia juga menampung kepadatan, mempercepat ritme hidup, dan menanggung konsekuensi dari euforia yang dibawa bersamanya.
Di beberapa sudut Canggu, hujan turun deras. Air menggenang di jalanan kompleks vila.
Sementara itu, di ruang lain, suasana berbanding terbalik. Restoran dipenuhi riuh suara. Api panggangan menyala, daging dibakar, terompet ditiup. Perayaan disiapkan dengan rapi, seolah akhir tahun adalah momen yang wajib dirayakan dengan penuh energi—tak peduli tubuh sudah lelah atau ruang sudah penuh.
Ketika waktu mendekat ke pergantian tahun, ratusan orang berlarian menuju Pantai Batu Bolong. Langkah dipercepat, ponsel digenggam, mata diarahkan ke langit. Semua ingin tiba tepat waktu, mengejar satu momen yang dipercaya hanya datang sekali setahun.
Lalu langit menyala. Kembang api meledak, sorak pecah, dan Bali kembali menjadi latar yang sempurna untuk euforia kolektif. Beberapa detik kemudian, gelap datang lagi. Keramaian perlahan bergerak, meninggalkan sisa suara, sampah, dan kelelahan yang tidak selalu terlihat di layar.
Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak. Sebab Bali tidak hanya menjadi tempat orang merayakan akhir tahun, tetapi juga ruang yang terus bekerja agar perayaan itu bisa terjadi. Ada jalan yang harus tetap dilalui meski tergenang. Ada dapur yang tetap panas. Ada pulau yang jarang diberi waktu untuk bernapas.
Liburan adalah hak, perayaan adalah pilihan. Namun mungkin, di tengah gegap gempita akhir tahun, kita juga perlu menyisakan kesadaran bahwa setiap euforia selalu ditopang oleh ruang dan manusia yang menanggungnya.
Akhir tahun akan terus datang dengan keramaiannya sendiri. Dan Bali—seperti biasa—akan kembali menjadi tempat orang menitipkan lelahnya. Pertanyaannya, apakah kita cukup adil dalam cara kita hadir dan meninggalkannya?(Red.)

