Nikmatnya menggunjing Jokowi

Bagi sebagian orang, nama Joko Widodo seolah tak pernah kehilangan tempat dalam daftar bahan gunjingan. Bertahun-tahun setelah tak lagi menjabat presiden, sosoknya masih rajin menjadi sasaran kebencian. Bahkan, tak sedikit yang larut dalam kebencian tanpa benar-benar memahami alasan di baliknya.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Ada orang yang sehari saja tidak membicarakan Jokowi mungkin merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Nama mantan presiden dua periode itu seolah menjadi menu wajib untuk dicela, apa pun persoalan yang sedang dibicarakan.

Bertahun-tahun berlalu, kebencian itu seperti tidak mengenal masa kedaluwarsa. Bahkan, bagi sebagian orang, membenci Jokowi seolah telah menjadi gaya hidup sekaligus identitas dalam pergaulan.

Lucunya, tidak semua penggunjing mengenal Jokowi secara personal. Tidak sedikit pula yang belum tentu memahami secara utuh alasan di balik kebenciannya. Namun, apa pun yang dilakukan, selalu tersedia bahan untuk mencela.

Tentu saja, Jokowi bukan sosok tanpa kekurangan. Sepuluh tahun memimpin Indonesia menyisakan berbagai catatan, termasuk kebijakan dan keputusan yang layak dievaluasi. Kritik terhadap seorang pemimpin merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.

Namun, ada perbedaan antara kritik yang lahir dari pemahaman dan kebencian yang sekadar dipelihara. Yang pertama membutuhkan pengetahuan dan keberanian menguji fakta. Sementara yang kedua bisa terus hidup hanya dengan mengulang-ulang sentimen.

Padahal, sosok yang mereka gunjingkan pernah mengemban tanggung jawab memimpin negeri ini selama satu dekade. Ada kerja keras, pengabdian, dan berbagai capaian yang menjadi bagian dari perjalanan pemerintahannya. Semua itu tentu bisa dinilai secara terbuka, bersama kekurangan dan kesalahannya.

Lantas, bagaimana dengan para penggunjingnya? Apa kontribusi yang telah mereka berikan untuk negeri ini? Apakah kesibukan membenci seseorang sudah cukup menjadi ukuran bahwa dirinya lebih baik?

Mengkritik tidak mengharuskan seseorang menjadi presiden terlebih dahulu. Namun, membenci tanpa memahami persoalan juga bukan prestasi yang patut dibanggakan.

Jangan sampai terlalu sibuk mencari kekurangan orang lain, seseorang justru lupa memeriksa kualitas dirinya sendiri.(Sizuka)

Leave a Reply