Di tengah kehidupan yang serba cepat, sekelompok warga di Yogyakarta memilih bergerak pelan lewat latihan Qigong. Meditasi dalam gerak ini menjadi ruang untuk menata napas, menenangkan pikiran, sekaligus belajar berdamai dengan tubuh, termasuk bagi para penyintas lupus dan penyakit autoimun.
Yogyakarta (Rumah Simbah)-Gerakan tangan terangkat perlahan. Napas ditarik lebih dalam. Di sebuah ruang latihan di Yogyakarta, suasana berjalan tenang. Orang-orang bergerak pelan, mengikuti aliran gerak dalam latihan Qigong.
Qigong dikenal sebagai meditasi dalam gerak, sebuah latihan yang memadukan pernapasan, konsentrasi, dan gerakan tubuh yang lembut. Latihan ini dipandu praktisi Qigong, Rita Gumilar, yang mengajak peserta untuk lebih sadar terhadap tubuh dan ritme napas mereka sendiri.
Di tengah kehidupan yang serba terburu-buru, latihan ini menjadi ruang jeda bagi para peserta. Mereka diajak hadir penuh di dalam tubuhnya, merasakan setiap gerakan dan napas secara perlahan.
Bagi sebagian peserta yang hidup dengan lupus dan penyakit autoimun, Qigong menghadirkan pengalaman yang lebih personal. Kondisi tubuh yang tidak selalu stabil sering membuat aktivitas sehari-hari menjadi tantangan tersendiri.
Melalui gerakan yang tenang dan teratur, para peserta mencoba menjaga keseimbangan tubuh sekaligus menenangkan pikiran. Di ruang latihan ini, mereka belajar mendengarkan sinyal-sinyal kecil yang sering terabaikan.
Penyintas lupus, Ian Sofyan, mengaku latihan Qigong membantunya menjaga ketenangan dan kualitas hidup. Menurutnya, gerakan sederhana yang dipadukan dengan pengaturan napas membuat tubuh terasa lebih rileks.
Di balik gerakannya yang tampak sederhana, Qigong menyimpan ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan tubuhnya sendiri. Sebuah pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak selalu dilakukan dengan tergesa, tetapi juga lewat kesediaan untuk berhenti sejenak, bernapas, dan mendengarkan tubuh dengan lebih utuh.(Boim)

