Romantisme nge-teh di Gedhong Patehan

Di dalam kompleks Keraton Yogyakarta, langkah terasa melambat. Di Gedhong Patehan, tradisi menjamu tak sekadar dikenang, tetapi masih dijaga sebagai cara menghormati setiap pertemuan. Berikut adalah video episode ke-2 Menyusuri lorong waktu di Keraton Yogya:

Yogyakarta (Rumah Simbah)-Memasuki bagian dalam Keraton Yogyakarta, suasana berubah terasa lebih tenang. Di kawasan Kedhaton, pengunjung tidak hanya melihat bangunan bersejarah, tetapi juga merasakan cara hidup yang dijaga melalui waktu.

Salah satu ruang yang menyimpan jejak itu adalah Gedhong Patehan. Bangunan ini dahulu menjadi tempat para abdi dalem menyiapkan jamuan bagi Sultan, keluarga, maupun tamu kehormatan. Kini, ruang tersebut juga berfungsi sebagai museum yang memamerkan berbagai perabotan lama, seperti teko, cangkir, dan perlengkapan dapur kerajaan.

Benda-benda itu mungkin tak lagi digunakan seperti dulu, namun nilai yang dibawanya tetap terasa. Tradisi menjamu di keraton tidak sepenuhnya hilang. Pada waktu-waktu tertentu, prosesi penyajian teh masih dilakukan sebagai bagian dari laku budaya yang diwariskan.

Air yang digunakan pun berasal dari sumur khusus di dalam kompleks Patehan, yang dikenal sebagai Nyai Jalatunda dan Kiai Jalatunda. Detail ini menjadi bagian dari upaya menjaga keaslian tradisi, sekaligus menunjukkan bahwa setiap proses memiliki makna tersendiri.

Bagi wisatawan, akses ke ruang ini memang terbatas. Pengunjung hanya dapat melihat koleksi perabot perjamuan teh di dalam ruang kaca. Namun justru dari batas itulah muncul kesadaran bahwa tidak semua hal dapat sepenuhnya dijangkau.

Gedhong Patehan bukan sekadar ruang penyimpanan benda lama. Ia menjadi pengingat bahwa menjamu bukan hanya tentang minuman yang disajikan, tetapi juga tentang cara menghormati pertemuan. Di tengah dunia yang serba cepat, tradisi ini menghadirkan jeda—sebuah cara sederhana untuk kembali memberi waktu pada setiap momen.(Sizuka)

Leave a Reply