Membasuh rindu masa lalu di riuh Malioboro

Kadang orang datang ke Malioboro bukan hanya untuk berjalan atau berbelanja. Ada yang datang membawa rindu pada masa yang terasa lebih pelan. Dan di antara riuh langkah wisatawan, rindu itu kadang dibasuh lewat selembar foto. Cerita utuhnya tertuang dalam video berikut:

Yogyakarta (Rumah Simbah) Keramaian seolah menjadi napas yang tak pernah putus di kawasan Jalan Malioboro. Sejak pagi hingga malam, langkah manusia datang silih berganti. Ada yang berjalan santai menikmati suasana kota, ada pula yang berhenti di berbagai sudut untuk mengabadikan momen lewat kamera.

Namun di balik lalu lalang itu, Malioboro bukan sekadar jalan wisata. Keramaian yang terlihat di sana menyimpan makna yang lebih dalam. Ia menjadi tanda bahwa sebuah tempat pernah memberi kesan bagi banyak orang. Dari berbagai kota, orang datang membawa cerita masing-masing, lalu bertemu di satu jalan yang sama.

Salah satu pemandangan yang kerap ditemui adalah wisatawan yang mengenakan busana tradisional Jawa. Mereka berganti pakaian, lalu berdiri di depan kamera dengan latar Malioboro. Dalam sekejap, potret pun tercipta, seolah membuka lembar album yang membawa bayangan masa lalu.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya pengalaman berfoto yang menyenangkan. Namun bagi yang lain, ada rasa yang lebih halus terselip di dalamnya. Mengenakan kebaya atau beskap di tengah suasana kota seperti Malioboro dapat menghadirkan perasaan yang berbeda, seolah menyentuh kembali akar budaya yang pernah begitu dekat.

Di tengah riuhnya aktivitas wisata, potret-potret itu menjadi cara sederhana manusia menyapa masa lampau. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga untuk dirasakan kembali. Ada rindu pada masa yang terasa lebih pelan, lebih sederhana, atau sekadar lebih akrab dengan nilai-nilai yang diwariskan.

Malioboro pun menjadi ruang pertemuan antara masa kini dan masa lalu. Keramaian yang terlihat bukan hanya kumpulan orang yang berlalu-lalang, melainkan perjumpaan berbagai kenangan yang datang dari tempat berbeda.

Karena kadang dalam sebuah perjalanan, yang dicari bukanlah tempat yang benar-benar baru. Melainkan jejak lama yang ingin ditemui kembali, agar rindu yang tersimpan di dalam hati dapat perlahan dibasuh. (Sizuka)

Leave a Reply