Pada momen tertentu seperti Ramadhan, harga bahan pokok kerap merangkak naik. Namun, kenaikan itu tidak semata soal stok atau distribusi. Perilaku belanja masyarakat yang cenderung serempak dan emosional turut membentuk pergerakan harga di pasar. Berikut video ulasannya:

Yogyakarta (Rumah Simbah)-Pasar selalu menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan dan keputusan. Di sana, harga tidak berdiri sendiri. Ia bergerak mengikuti dinamika pasokan dan permintaan, termasuk perilaku pembelinya.
Momen besar seperti Ramadhan, kekhawatiran akan kenaikan harga sering mendorong masyarakat membeli dalam jumlah lebih banyak dan dalam waktu yang hampir bersamaan. Fenomena ini memicu lonjakan permintaan secara tiba-tiba. Ketika permintaan meningkat tajam sementara pasokan relatif tetap, harga cenderung terdorong naik.
Dalam konteks ini, kepanikan kolektif dapat menciptakan kelangkaan semu. Barang yang sebenarnya tersedia dalam jumlah cukup terlihat cepat habis karena diburu secara bersamaan. Pasar membaca situasi tersebut sebagai sinyal meningkatnya kebutuhan, dan harga pun menyesuaikan.
Artinya, konsumen bukan hanya pihak yang menerima harga, tetapi juga bagian dari mekanisme pembentuk harga itu sendiri.
Karena itu, strategi belanja menjadi penting. Pertama, membeli sesuai kebutuhan, bukan karena dorongan ikut-ikutan. Perencanaan sederhana seperti membuat daftar belanja dapat membantu menahan pembelian impulsif.
Kedua, mempertimbangkan barang substitusi ketika komoditas tertentu mengalami kenaikan harga. Pasar selalu menyediakan alternatif, dan fleksibilitas pilihan dapat membantu menjaga pengeluaran tetap rasional.
Ketiga, memperhatikan waktu belanja. Menghindari jam atau hari dengan lonjakan pembeli dapat memberikan ruang untuk memilih dengan lebih tenang sekaligus mengurangi risiko keputusan terburu-buru.
Bijak berbelanja bukan hanya soal mencari harga termurah. Lebih dari itu, ini tentang memahami bagaimana perilaku kolektif memengaruhi pasar. Dengan keputusan yang rasional dan terencana, masyarakat tidak hanya melindungi daya beli pribadi, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas harga secara lebih luas.
Pada akhirnya, pasar adalah cerminan perilaku bersama. Ketika konsumen tenang dan terukur, harga pun cenderung bergerak lebih wajar.(Sizuka)

