Bali kerap disebut surga wisata yang ramah di kantong. Namun di balik harga yang terasa murah bagi wisatawan asing, ada ongkos sosial yang mahal dan jarang dihitung. Video berikut adalah ulasan tentang itu:

Badung, Bali (Rumah Simbah)-Bali selama ini dipromosikan sebagai destinasi wisata yang terjangkau. Mulai dari penginapan murah, paket liburan banting harga, hingga ragam hiburan yang mudah diakses. Bagi wisatawan (asing), semua itu terasa menyenangkan—liburan jadi ringan di dompet.
Namun bagi sebagian warga Bali, realitasnya tidak sesederhana itu.
Di balik pariwisata yang dijual murah, terdapat ongkos sosial yang perlahan tapi pasti harus dibayar oleh mereka yang tinggal dan hidup di dalamnya.
Persaingan harga yang ketat membuat banyak sektor pariwisata menekan biaya produksi. Upah pekerja ditekan, jam kerja diperpanjang, dan perlindungan sosial sering kali menjadi hal terakhir yang dipikirkan. Pariwisata tumbuh cepat, tetapi kesejahteraan tidak selalu ikut naik.
Di sisi lain, tekanan ekonomi mendorong perubahan besar pada ruang hidup warga. Tanah warisan dijual untuk bertahan hidup. Sawah menyempit, berganti bangunan dan properti. Konflik keluarga muncul ketika pilihan hidup makin terbatas dan kebutuhan terus meningkat.
Dampak sosialnya pun merembet ke kehidupan sehari-hari. Anak-anak tumbuh di lingkungan yang kian rentan terhadap miras, narkoba, dan judi. Ini bukan cerita sensasional, melainkan pengakuan-pengakuan yang muncul dari warga sendiri—suara yang selama ini jarang mendapat ruang.
Penting untuk dicatat, persoalan ini bukan tentang menyalahkan masyarakat Bali. Mereka berada di dalam sistem yang memaksa pilihan-pilihan sulit. Ketika lapangan kerja bergantung hampir sepenuhnya pada pariwisata, bertahan hidup sering kali menjadi prioritas utama, bahkan jika harus mengorbankan nilai dan ruang hidup.
Pariwisata bisa menjadi berkah jika dikelola secara adil dan berimbang. Namun ketika pariwisata hanya dikejar dari sisi murah dan cepat, ongkos jangka panjangnya justru ditanggung oleh warga lokal dan generasi berikutnya.
Bali mungkin terasa murah hari ini.
Tetapi tanpa kesadaran dan pembenahan, harga sebenarnya bisa dibayar di masa depan—dalam bentuk rusaknya ruang hidup, rapuhnya tatanan sosial, dan hilangnya pilihan hidup yang bermartabat.(Siz)

