Hari Ibu sering kita rayakan dengan pujian. Tapi bagaimana kalau kasih juga bisa hadir bersama kuasa? Tidak semua ibu jahat. Tapi tidak semua relasi ibu–anak sehat. Ulasan selengkapnya tersaji dalam tayangan video berikut:

Bogor, Jabar (Rumah Simbah) – Hari Ibu kerap dirayakan dengan puja-puji. Ibu digambarkan sebagai sosok tanpa cela, penuh pengorbanan, dan selalu benar.
Narasi ini terasa hangat, sekaligus menenangkan. Namun, di balik perayaan yang seragam itu, relasi ibu dan anak dalam kehidupan nyata tidak selalu sesederhana yang dibayangkan.
Tidak sedikit anak yang tumbuh dalam kepatuhan, tetapi tanpa rasa aman. Atas nama cinta dan pengalaman hidup, sebagian ibu tetap mengatur kehidupan anaknya bahkan ketika mereka telah dewasa. Kontrol dibungkus kepedulian, sementara perbedaan pendapat kerap dianggap pembangkangan.
Dalam konteks masyarakat religius, relasi ini kadang diperkuat oleh ancaman simbolik. Kata “durhaka” menjadi batas yang membuat anak memilih diam.
Kepatuhan lahir bukan dari kedekatan emosional, melainkan dari rasa takut melanggar nilai yang dianggap sakral. Hormat terjaga, tetapi kehangatan perlahan menghilang.
Dominasi juga tidak selalu hadir dalam bentuk kuasa nyata. Ia sering bekerja melalui emosi: mudah tersinggung, menyimpan marah, atau memosisikan diri sebagai pihak yang selalu terluka.
Perbedaan pandangan dibaca sebagai serangan, bukan percakapan. Anak pun belajar menyesuaikan diri, meski harus menekan perasaannya sendiri.
Penting untuk diakui, banyak ibu menjalani peran keibuan dalam keterbatasan zamannya. Pilihan hidup yang sempit, minim ruang dialog emosional, dan tuntutan untuk selalu kuat membentuk cara mengasuh yang keras tanpa disadari. Memahami konteks ini penting, tetapi tidak otomatis menghapus dampaknya.
Hari Ibu bisa menjadi momentum untuk membaca ulang relasi tersebut. Menghormati ibu tidak harus berarti menutup mata terhadap luka. Sebaliknya, penghormatan yang dewasa justru lahir dari keberanian melihat kenyataan apa adanya.
Bagi generasi yang hari ini menjadi orang tua, atau sedang menuju ke sana, refleksi ini menjadi krusial. Memutus siklus bukan berarti memutus hubungan. Ia berarti mengganti cara: dari ancaman menjadi dialog, dari kontrol menjadi kepercayaan.
Hari Ibu, pada akhirnya, bukan hanya tentang mengenang pengorbanan masa lalu. Ia juga tentang memastikan kasih di masa depan tidak lagi menyisakan takut, melainkan rasa aman untuk pulang.(Red.)

