Valentine: kasih sayang semusim

Valentine kembali datang dengan warna merah muda dan janji manis yang ramai di linimasa. Namun, benarkah kasih sayang hanya hidup pada satu tanggal di kalender? Ulasannya tersaji dalam video berikut:

Yogyakarta (Rumah Simbah)-Februari selalu punya cara untuk memerah. Toko-toko dipenuhi bunga, cokelat tersusun rapi, dan linimasa mendadak menjadi panggung romantisme.

Pada 14 Februari, kasih sayang seolah mendapat jadwal resmi untuk ditampilkan.

Tidak ada yang keliru dengan perayaan. Memberi bunga, menyusun kata manis, atau menikmati makan malam berdua adalah bentuk ekspresi yang sah. Namun persoalannya bukan pada perayaannya, melainkan pada konsistensinya.

Kasih sayang bukanlah acara tahunan. Ia bukan produk edisi terbatas yang aktif sehari lalu kembali normal seperti biasa.

Ia hidup dalam kebiasaan yang sering kali tidak terlihat. Dalam cara berbicara yang tidak merendahkan. Dalam kesediaan mendengar tanpa menyela. Dalam kepedulian yang hadir tanpa perlu diumumkan.

Rasa yang matang tidak menunggu tanggal. Ia tumbuh dari perhatian kecil yang dilakukan berulang-ulang. Ia hadir dalam kesabaran, dalam tanggung jawab, dalam sikap yang tetap hangat bahkan ketika suasana tidak romantis.

Valentine merayakan simbol. Kasih sayang merawat sistem.

Di tengah riuh perayaan, barangkali yang perlu direnungkan bukan seberapa meriah 14 Februari dirayakan, tetapi seberapa konsisten rasa itu dijaga pada hari-hari biasa. Ketika tidak ada balon berbentuk hati. Ketika tidak ada kamera yang merekam.

Rayakan saja Valentine semeriah mungkin. Tidak ada yang melarang. Namun semoga setelah bunga layu dan cokelat habis, perhatian tidak ikut menguap.

Sebab menjadi peraya itu mudah. Cukup hadir pada momen.

Tetapi menjadi pelaku kasih sayang adalah keputusan yang diperbarui setiap hari.(Sizuka)

Leave a Reply