Sumber Maron: desa yang bekerja saat kita berlibur

Sumber Maron kerap hadir sebagai ruang liburan yang menyegarkan bagi para wisatawan. Namun di balik tubuh-tubuh yang berlibur, ada sebuah desa yang tetap bekerja, menjaga air, ruang, dan ritmenya setiap hari.

Malang, Jawa Timur (Rumah Simbah)-Perjalanan menuju Sumber Maron dimulai dari jalan raya antarkota yang ramai. Kendaraan melaju cepat hingga perlahan ritmenya berubah saat memasuki jalan desa menuju lokasi wisata. Di titik itu, kecepatan kota ditinggalkan, digantikan langkah yang lebih pelan.

Jalan desa dan gapura wisata menjadi penanda tak tertulis. Bukan hanya soal arah, tetapi tentang peralihan ruang. Dari wilayah tinggal warga menuju ruang singgah para pendatang.

Kendaraan berhenti di area parkir. Di gerbang loket, tiket masuk dibayar dengan harga terjangkau. Murah bagi pengunjung, namun di baliknya ada tanggung jawab panjang. Air harus dijaga, ruang harus dibersihkan, dan ketertiban harus dipelihara setiap hari.

Setelahnya, pengunjung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni jalan atau anak tangga menuju pemandian. Jalan ini seolah mengajarkan satu hal sederhana yang kerap hilang dalam wisata populer: tidak semua tujuan bisa dicapai dengan tergesa.

Sebelum air menjadi tujuan utama, deretan pedagang UMKM lebih dulu menyambut. Bakso mengepul di panci sederhana, bergam jajanan dan buah-buahan segar ditata di lapak, termasuk belimbing khas Malang hasil kebun petani setempat. Di sini, wisata bukan sekadar pengalaman visual, melainkan juga perputaran ekonomi kecil yang nyata.

Fasilitas seperti toilet dan musholla berdiri apa adanya. Tidak selalu masuk bingkai kamera, tetapi justru di ruang-ruang inilah kualitas sebuah destinasi diuji. Bukan pada keindahan semata, melainkan pada kepantasan melayani banyak orang.

Di area perairan, air mengalir tenang. Pengunjung mengapung, tertawa, melepas penat. Bagi mereka, ini rekreasi. Bagi desa, air tetap harus kembali bersih, mengalir ke hilir tanpa meninggalkan beban.

Saat pengunjung berjalan kembali dengan pakaian kuyup dan wajah lega, wisata perlahan usai. Namun bagi warga, pekerjaan belum tentu selesai. Area dirapikan, sampah dikumpulkan, lapak dibereskan, dan air kembali dijaga.

Sumber Maron, pada akhirnya, bukan hanya soal kesegaran air. Ia adalah contoh bagaimana sebuah desa berbagi ruang hidupnya, sebentar demi tamu, sepanjang hari demi keberlanjutan.(Mia)

Leave a Reply