Semangat nasionalisme tidak hanya hadir dalam upacara atau pidato kenegaraan. Di lapangan sepak bola, rasa memiliki terhadap Indonesia juga dapat berkobar, ketika ribuan orang melebur dalam satu identitas dan satu dukungan untuk tim nasional Garuda.

Jakarta, (Rumah Simbah)-Ada sesuatu yang menarik dari sepak bola. Olahraga ini mampu membuat ribuan orang yang tidak saling mengenal duduk berdampingan dalam satu tribun, lalu berteriak dengan suara yang sama: Indonesia.
Pemandangan itu terlihat ketika pertandingan sepak bola yang mempertemukan tim nasional Indonesia dengan tim Malaysia dalam FIFA ASEAN Cup 20026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Senin malam (28/9).
Di lapangan, para pemain berjuang membawa nama bangsa. Sementara di tribun, para pendukung ikut larut dalam setiap peluang, ketegangan, hingga kegembiraan yang tercipta.
Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Berbeda daerah, pekerjaan, usia, bahkan mungkin berbeda pandangan dalam banyak hal.
Namun, selama pertandingan berlangsung, perbedaan itu seolah menemukan ruang untuk berhenti sejenak.
Yang tersisa adalah satu identitas: Indonesia.
Sepak bola memang bukan satu-satunya cara mencintai negeri. Namun, dari lapangan bola, kita dapat melihat bagaimana nasionalisme tumbuh melalui rasa memiliki, kebersamaan, dan kesediaan memberikan dukungan bagi perjuangan yang sama.
Di situlah sepak bola bertemu dengan Pancasila.
Sebab persatuan bukan hanya untuk dihafalkan. Ia untuk dirasakan dan diamalkan. Pancasila ternyata tidak selalu tinggal di ruang upacara. Kadang, ia berkobar di tribun sepak bola.(Sizuka)

