Kehangatan suasana lebaran di rumah warga Depok, Jawa Barat. (Rumah Simbah/Maylo)
Banyak umat Islam merayakan kemenangan di Hari Lebaran, tapi sesungguhnya tidak semua orang telah menang. Hanya pribadi baru yang lebih bersih, istiqomah dalam ibadah, dan patuh pada kebaikan, merekalah para juara sejati. Ulasan tentang ini tersaji dalam video berikut:
Hari Raya Idul Fitri selalu digaungkan sebagai Hari Kemenangan bagi umat Islam, tapi apakah setiap muslim otomatis memperoleh kemenangan? Tentu tidak semudah itu, bila beragama dinilai dari sisi yang lebih esensi.
Seperti dalam seremoni silaturahmi untuk bermaaf-maafan tidak otomatis dosa sesamanya menjadi nol, kecuali benar-benar saling mengikhlaskan kesalahan saudaranya hingga bagasi hati bersih tak tersisa amarah, kekesalan, apalagi dendam.
Begitu pula dalam amalan ibadah, tidak hanya “kejar tayang” selama bulan Ramadhan, melainkan bagaimana menjaga tetap istiqomah selama 11 bulan lainnya. Bukan hanya mendadak sholeh di saat bulan puasa lantas kembali liar pasca lebaran.
Ramadhan laksana bulan penggemblengan, hasilnya harusnya permanen sampai sebelas bulan berikutnya kemudian dilakukan penyegaran lagi ketika bulan puasa tiba. Begitu seterusnya, sehingga seorang muslim menjadi sosok sholeh sepanjang waktu.
Sedangkan Lebaran yang identik dengan baju baru, makan-makan, angpao, dan parsel serta tradisi mudik, kesemua itu hanyalah perayaan yang bersifat lahiriyah.
Bila ingin merayakan kemenangan dalam makna yang sesungguhnya, pastikan selalu menjadi pribadi baru yang lebih baik setiap memasuki Idul Fitri, dengan merawat kesholehan baik kepada Yang Maha Kuasa pun terhadap sesama.
Mari rayakan Hari Kemenangan dengan “baju baru” yaitu pribadi yang terlahir kembali, suci. (Siz)


