Yogyakarta sejak lama dikenal sebagai kota pelajar. Ribuan anak muda datang membawa mimpi, gagasan, dan cerita tentang perantauan. Namun di tengah perubahan zaman dan budaya digital, bagaimana wajah kota pelajar itu hari ini?

Sleman, Yogyakarta (Rumah Simbah)-Yogyakarta telah lama menyandang identitas sebagai kota pelajar. Setiap tahun, ribuan mahasiswa dari berbagai daerah datang untuk menempuh pendidikan, merajut mimpi, dan menemukan jati diri.
Di kampus-kampus besar seperti Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta, tradisi akademik tumbuh bersama dinamika kehidupan mahasiswa.
Tak hanya ruang kelas dan perpustakaan, sudut-sudut kampus serta warung kopi di sekitarnya kerap menjadi tempat diskusi panjang. Percakapan tentang teori, masa depan, hingga persoalan sosial menjadi bagian dari denyut harian kota ini. Identitas sebagai kota pelajar pun melekat kuat dalam imajinasi publik.
Namun waktu terus bergerak. Di musim libur, lorong kampus terasa lebih lengang. Keramaian berkurang, tetapi aktivitas tak pernah benar-benar berhenti. Dalam lingkaran kecil, mahasiswa tetap berdiskusi. Di ruang bimbingan, proses belajar tetap berlangsung.
Di sisi lain, halaman kampus juga memperlihatkan wajah yang berbeda. Generasi hari ini tumbuh dalam lanskap digital. Ruang belajar tak lagi terbatas pada meja dan buku, tetapi meluas ke layar dan media sosial. Kampus menjadi ruang akademik sekaligus ruang ekspresi.
Perubahan ini tidak serta-merta menghapus identitas lama. Kota pelajar tetap hidup, tetapi dalam bentuk yang lebih beragam. Mahasiswa bukan hanya pencari ilmu, melainkan juga bagian dari ekosistem sosial dan ekonomi kota.
Di tengah dinamika tersebut, apakah semangat berpikir kritis yang dahulu menjadi jantung kota ini masih menyala dengan kekuatan yang sama? Atau justru ia sedang menemukan bentuk barunya?
Yogya mungkin tetap kota pelajar. Namun maknanya terus berkembang, mengikuti zaman dan generasi yang menghidupinya.(Sizuka)

