Merawat harmoni lintas generasi

Dalam satu rumah, tiga generasi bisa tinggal bersama di bawah atap yang sama, tetapi tidak selalu dalam irama yang sama. Harmoni lintas generasi bukan sesuatu yang otomatis hadir karena ikatan darah atau luasnya ruang. Ia tumbuh dari kesediaan untuk mendengar, menahan diri, dan memilih rukun setiap hari. Dari rumah-rumah itulah, pelajaran kecil tentang merawat bangsa sesungguhnya dimulai. Berikut video ulasannya:

Sleman, Yogyakarta (Rumah Simbah)-Di sejumlah sudut rumah di Yogyakarta, tiga generasi masih berbagi atap yang sama. Nenek, anak, dan cucu hidup dalam satu ruang, satu meja makan, satu halaman yang mungkin telah menyaksikan puluhan musim berganti.

Sepintas, yang terlihat adalah kehangatan. Tawa kecil di ruang tengah. Dapur yang tak pernah benar-benar sepi. Sapaan yang terdengar biasa, namun akrab.

Namun tinggal bersama lintas generasi bukan perkara sederhana. Setiap generasi membawa zamannya sendiri. Generasi tua menyimpan nilai ketahanan dan pengalaman panjang. Generasi tengah memikul tanggung jawab ekonomi dan tuntutan modernitas. Generasi muda tumbuh di tengah arus digital yang serba cepat.

Perbedaan cara pandang, pola asuh, hingga gaya komunikasi kerap menjadi dinamika sehari-hari. Apa yang dianggap wajar oleh satu generasi, bisa terasa janggal bagi generasi lain. Di sinilah harmoni diuji.

Harmoni lintas generasi bukan berarti tanpa gesekan. Ia justru lahir dari kemampuan mengelola perbedaan. Dari kesediaan untuk mendengar meski tidak selalu sepakat. Dari pilihan untuk menahan ego agar kebersamaan tetap utuh.

Rumah yang luas tidak otomatis menghadirkan kelapangan hati. Sebaliknya, rumah yang hangat biasanya dibangun oleh kompromi-kompromi kecil yang nyaris tak terlihat.

Apa yang terjadi di dalam rumah sesungguhnya adalah miniatur kehidupan berbangsa. Bangsa ini pun dihuni oleh generasi dengan pengalaman, kepentingan, dan cara pandang yang beragam.

Generasi tua menjaga akar dan nilai. Generasi tengah mengelola arah pembangunan. Generasi muda mendorong perubahan dan pembaruan.

Jika dalam satu rumah saja harmoni perlu dirawat setiap hari, maka dalam skala bangsa ia membutuhkan kesadaran yang lebih besar. Bangsa ini tidak dibangun hanya oleh kesamaan, melainkan oleh kemampuan untuk hidup dalam perbedaan.

Di ruang-ruang sederhana itulah, orang belajar menahan suara agar yang lain tetap didengar, belajar mengalah tanpa merasa kalah, belajar berbeda tanpa harus berpisah.

Sebab bangsa _pada akhirnya_ hanyalah kumpulan rumah yang memilih rukun daripada menang sendiri. Dan barangkali, Indonesia selalu punya harapan, selama masih ada rumah yang ingin menjadi ruang pulang bagi semua generasinya.(Sizuka)

Leave a Reply