Di Kota Singkawang, tradisi bukan hanya dirayakan. Ia dijaga sebagai ingatan kolektif. Dari Cap Go Meh hingga festival kue bulan, rangkaian budaya masyarakat Tionghoa tak sekadar menjadi daya tarik wisata, tetapi juga ruang untuk merawat identitas dan kebersamaan.
Singkawang, Kalbar (Rumah Simbah)-Di sudut kota Singkawang, genderang tidak sekadar dipukul. Ia dibangunkan.
Merah lampion, asap dupa, dan langkah tatung yang menyentuh aspal bukan tontonan tahunan. Ia adalah ingatan yang berjalan. Festival Imlek, Cap Go Meh, ritual tatung cuci jalan, makan bakcang hingga festival kue bulan bukan agenda belaka di kalender wisata. Ia adalah cara sebuah komunitas merawat dirinya.
Beberapa orang mungkin melihatnya sebagai daya tarik wisata. Angka kunjungan. Grafik naik. Nilai tambah bagi daerah.
Namun bagi warga Tionghoa di Singkawang, tradisi adalah bahasa yang tak boleh hilang. Ia diwariskan bukan lewat pidato, melainkan lewat pengulangan. Setiap tahun. Setiap generasi.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie menyebut ragam festival ini sebagai cermin harmonisasi dalam keberagaman Indonesia.
Kota ini memang lama dikenal sebagai ruang perjumpaan. Identitas tidak saling meniadakan. Ia berdampingan.
Di balik panggung utama dan jadwal resmi, ada para pedagang yang menggantung harapan pada ramainya peziarah dan wisatawan. Ada pembuat bakcang yang resepnya lebih tua dari baliho festival. Ada keluarga yang menunggu bulan lima untuk ritual mandi siang, bukan demi kamera, melainkan demi keyakinan.
Tradisi di Singkawang tidak sedang mencari validasi. Ia hanya ingin terus hidup.
Dan di situlah letak maknanya. Bahwa budaya bukan sekadar aset daerah. Ia adalah ruang pulang.(Budi)




