Batik hadir sebagai kain yang membawa identitas, cerita, dan pengetahuan budaya. Ketika dikenakan, batik seolah berubah menjadi bahasa yang berbicara melalui tubuh pemakainya.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)- Batik memiliki beragam motif yang lahir dari lingkungan, tradisi, serta pandangan hidup masyarakat di berbagai daerah Indonesia. Setiap motif memiliki perjalanan dan konteks budaya yang membuatnya lebih dari sekadar hiasan pada selembar kain.
Proses pembuatannya juga menyimpan cerita. Canting, malam, pewarna, serta ketekunan tangan pembatik menjadi bagian dari perjalanan sebuah kain hingga siap dikenakan.
Ketika batik melekat pada tubuh, seluruh cerita itu ikut hadir.
Seseorang mengenakan batik untuk bekerja. Orang lain memakainya dalam perayaan. Ada pula yang mengenakannya dalam keseharian.
Batik kemudian menjadi bagian dari cara seseorang hadir di ruang publik.
Kain itu membawa jejak daerah, tradisi, keterampilan, dan kreativitas. Generasi baru juga terus memberi ruang bagi batik melalui ragam desain dan cara pemakaian yang semakin beragam. Batik menjadi bahasa yang terus berkembang.
Bahasa yang lahir dari budaya. Bahasa yang tumbuh melalui tangan para perajin. Bahasa yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hari Batik Nasional menjadi momentum untuk kembali melihat batik dengan cara yang lebih dalam.
Kita mengenakan kainnya. Kita membawa ceritanya. Batik pun terus berbicara melalui tubuh kita. (Sizuka)

