Masa jabatan seorang presiden memiliki batas waktu. Namun, kedekatan emosional dengan masyarakat tak selalu berakhir bersama pergantian kekuasaan. Sambutan hangat terhadap Joko Widodo saat menghadiri persidangan di PN Jakarta Timur memperlihatkan bagaimana cinta, kenangan, dan dukungan sebagian rakyat masih mengalir kepada mantan presiden tersebut.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Masa jabatan seorang presiden memiliki batas waktu. Namun, kedekatan emosional antara pemimpin dan rakyat yang pernah dipimpinnya tidak otomatis berakhir bersama pergantian kekuasaan.
Suasana hangat menyelimuti kedatangan mantan Presiden Joko Widodo saat menghadiri persidangan terkait perkara ijazah dan pencemaran nama baik di PN Jakarta Timur. Kehadirannya disambut antusias oleh masyarakat yang datang untuk memberikan dukungan.
Sorak-sorai, uluran tangan, hingga tangis haru mewarnai perjumpaan tersebut. Sebagian orang bahkan rela menunggu demi mendapatkan kesempatan bertemu langsung, bersalaman, atau sekadar mengabadikan momen bersama sosok yang mereka kagumi.
Pemandangan itu memperlihatkan sisi lain hubungan seorang mantan pemimpin dengan masyarakat. Di luar urusan jabatan dan kekuasaan, ada ikatan emosional yang tumbuh melalui pengalaman, kenangan, serta hal-hal baik yang pernah dirasakan.
Kecintaan terhadap seorang pemimpin tentu bukan berarti meniadakan sikap kritis. Setiap pemimpin tetap memiliki rekam jejak yang dapat dinilai secara terbuka. Namun, masyarakat juga memiliki ruang untuk mengenang, menghargai, dan menunjukkan rasa terima kasih atas hal-hal yang dianggap bermakna selama masa kepemimpinannya.
Energi positif semacam ini memiliki daya untuk menular. Ketulusan melahirkan kehangatan, perhatian menumbuhkan kedekatan, sementara kebaikan yang dirasakan seseorang dapat meninggalkan kesan panjang dalam ingatan.
Barangkali, salah satu hal paling menarik dari hubungan rakyat dan pemimpinnya adalah kenyataan bahwa jabatan bisa berakhir, tetapi kenangan tidak selalu ikut pergi.
Bagi sebagian pendukung Jokowi, masa kepresidenannya mungkin telah berlalu. Namun, rasa kagum, cinta, dan doa untuk sang mantan masih terus mengalir.(Sizuka)

