Amarah “Bu Tejo” tumpah di Titik Nol Yogya

Kegelisahan terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak kunjung padam membawa sekelompok perempuan ke Titik Nol Yogyakarta. Bersama seniman, aktivis, dan warga, mereka menyuarakan keprihatinan melalui aksi melukis dan menabuh panci, Jumat (30/10).

Yogyakarta (Rumah Simbah)-Kegelisahan terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus berulang membawa sekelompok perempuan ke Titik Nol Yogyakarta. Bersama seniman, aktivis, dan warga, mereka menyuarakan keprihatinan melalui aksi melukis dan menabuh panci, Jumat (30/10).

Aksi bertajuk “Suara Ibu Yogyakarta” tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak Karhutla di sejumlah wilayah, terutama Sumatera dan Kalimantan.

Figur publik Siti Fauziah, pemeran Bu Tejo dalam film “Tilik”, yang menjadi juru bicara aksi mengatakan jika pemerintah menangani karhutla dengan sungguh-sungguh, ia dan teman-temannya tak perlu marah hingga turun ke jalan.

Dalam aksi tersebut, seniman Miftah Rizaq menuangkan kegelisahannya melalui lukisan yang mempertemukan tangan manusia dan orangutan. Karya itu menjadi interpretasinya terhadap kondisi hutan Indonesia saat ini, ketika kerusakan lingkungan turut mengancam keberlangsungan hidup manusia dan satwa.

Selain melalui lukisan, para peserta juga menabuh panci sebagai simbol tuntutan atas hak dasar masyarakat untuk menghirup udara bersih dan terbebas dari asap kebakaran.

Bagi mereka, penanganan Karhutla semestinya tidak berhenti pada upaya meminta masyarakat beradaptasi dengan kondisi bencana. Sebaliknya, diperlukan tindakan kedaruratan agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi pihak yang menanggung dampaknya.

Tabuhan panci di kawasan Titik Nol itu menjadi penanda bahwa persoalan Karhutla masih membutuhkan perhatian. Di balik bunyinya, tersimpan tuntutan serius menyangkut hak hidup banyak orang: udara bersih bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar.(Boim)

Leave a Reply