Santri ngaji teknologi, terkoneksi akal budi

Pesantren terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Selain mengkaji kitab kuning, santri kini juga berkenalan dengan komputer, robotik, hingga kecerdasan artifisial. Namun, kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pembentukan akal budi dan penjagaan akhlak.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Hari Santri menjadi momentum untuk merayakan peran pesantren dalam membentuk generasi berilmu dan berakhlak. Seiring perkembangan zaman, pesantren tidak hanya menjadi ruang untuk mengkaji kitab kuning, tetapi juga mulai membuka cakrawala pembelajaran melalui teknologi.

Komputer jinjing, robotik, hingga kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi bagian dari dunia belajar santri di sejumlah pesantren modern. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tradisi pendidikan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan masa kini.

Adaptasi tersebut penting agar santri memiliki bekal menghadapi perubahan dunia. Teknologi membuka kesempatan untuk mengakses informasi, mengembangkan kreativitas, dan menghasilkan berbagai inovasi. Namun, kecakapan digital saja tidak cukup untuk membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab.

Di sinilah pembentukan akal budi tetap menjadi bagian mendasar dari pendidikan. Kecerdasan bukan semata-mata kemampuan menguasai perangkat atau menciptakan teknologi, melainkan juga kebijaksanaan dalam menggunakannya serta kesanggupan menghormati martabat sesama.

Ironisnya, di tengah kemajuan pendidikan pesantren, masih muncul kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengasuh dan menempatkan santri sebagai korban. Perbuatan tersebut mengkhianati amanah pendidikan sekaligus bertentangan dengan nilai akhlak yang semestinya diajarkan dan diteladankan.

Kemajuan pesantren patut diapresiasi, tetapi upaya melindungi santri juga tidak boleh diabaikan. Penghormatan terhadap lembaga pendidikan keagamaan harus berjalan bersama keberanian mengungkap pelanggaran, melindungi korban, dan menindak pelaku sesuai hukum.
Teknologi boleh melaju ke masa depan, tetapi akhlak tak boleh mundur ke zaman kegelapan.(Red.)

Leave a Reply