Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat semakin mudah memperoleh berita sekaligus semakin rentan menelan informasi tanpa pemeriksaan. Merawat akal sehat menjadi kebutuhan penting agar kebebasan mengakses informasi berjalan seiring dengan kejernihan berpikir.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Kepedulian terhadap kesehatan tubuh semakin terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Masyarakat mulai memperhatikan kandungan gizi, membatasi konsumsi gula, hingga menghitung kalori. Namun, perhatian serupa belum tentu diterapkan untuk kesehatan otak atau pikiran.
Setiap hari, berbagai informasi hadir melalui media sosial, aplikasi percakapan, portal berita, hingga video pendek. Judul provokatif menarik perhatian, potongan pernyataan memancing reaksi, sementara kabar yang belum terverifikasi dapat menyebar luas sebelum kebenarannya diperiksa.
Dalam situasi seperti ini, kecepatan kerap mengalahkan ketelitian. Informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi lebih mudah diterima, sedangkan informasi yang berlawanan cenderung ditolak. Prasangka memperoleh pembenaran, sementara fakta yang mengusik kenyamanan berisiko diabaikan.
Persoalannya tidak berhenti pada penyebaran berita bohong. Informasi yang benar pun dapat menghasilkan pemahaman keliru apabila dilepaskan dari konteks atau dipilih secara selektif untuk mendukung kesimpulan tertentu.
Disrupsi informasi membuat persoalan tersebut semakin kompleks. Melimpahnya informasi tidak otomatis memperluas wawasan. Tanpa kemampuan mengolah informasi secara kritis, masyarakat justru berisiko terjebak dalam ruang keyakinannya sendiri.
Merawat akal sehat karena itu membutuhkan kesadaran untuk memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, dan membedakan fakta dari opini. Kita juga perlu memberi ruang bagi keraguan serta bersedia mengoreksi pendapat ketika bukti menunjukkan hal yang berbeda.
Kebiasaan tersebut bukan semata-mata tanggung jawab pengguna media sosial. Media, pembuat konten, dan setiap pihak yang memproduksi informasi turut memiliki tanggung jawab menjaga kualitas ruang informasi bersama.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar seberapa banyak informasi yang kita konsumsi, melainkan bagaimana informasi itu membentuk cara kita memahami dunia dan memperlakukan sesama.
Kita dapat merasa paling tahu, paling kritis, dan paling benar. Namun, tanpa kesediaan memeriksa keyakinan sendiri, pengetahuan justru berisiko menjadi pembenaran bagi prasangka.
Di tengah disrupsi informasi, merawat akal sehat dimulai dari kebiasaan sederhana: memeriksa informasi sebelum mempercayainya, berpikir sebelum menyebarkannya, dan mengoreksi diri sebelum menghakimi orang lain.(Sizuka)

