Gibran Rakabuming Raka seolah tak pernah habis jadi bahan perbincangan, termasuk olok-olok dan kritik dari para penentangnya. Namun, di tengah riuhnya perhatian itu, muncul sebuah paradoks: orang-orang yang ingin menjatuhkan popularitasnya justru berpotensi ikut membuat namanya semakin dikenal. Gara-gara Gibran, para pembenci bisa saja tanpa sadar menjadi promotor gratis.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Nama Gibran Rakabuming Raka seolah tak pernah sepi dari perbincangan. Sejak ayahnya, Joko Widodo, menjadi pejabat publik, Gibran kerap menjadi sasaran olok-olok, sindiran, hingga kritik yang ramai di jagat digital. Namun, di tengah riuhnya perhatian itu, ada satu hal yang menarik: Gibran tidak selalu menanggapi kegaduhan dengan reaksi panjang.
Dalam sejumlah kesempatan, ia justru terlihat santai, menjawab seperlunya, lalu melanjutkan aktivitasnya. Bahkan, keramaian yang semula dimaksudkan untuk menyudutkannya pernah berbalik menjadi bahan promosi.
Pada 2018, misalnya, aksi demonstrasi #GantiPresiden2019 di depan gerai Markobar, bisnis martabak milik Gibran, sempat menjadi sorotan. Gibran menyebut aksi tersebut sebagai promosi gratis. Peristiwa itu memperlihatkan bagaimana sebuah kejadian yang bernuansa politik dapat pula dimanfaatkan sebagai perhatian komersial.
Fenomena serupa muncul ketika Gibran mendapat julukan “belimbing sayur”. Dalam kampanye Pemilu 2024, Kaesang Pangarep membagikan gantungan kunci bergambar Gibran dengan julukan tersebut. Ejekan yang semula dimaksudkan untuk merendahkan justru diolah menjadi materi kampanye.
Tentu, kritik terhadap pejabat publik merupakan bagian penting dari demokrasi. Tidak semua pengkritik adalah pembenci, dan tidak setiap kritik otomatis menguntungkan pihak yang dikritik.
Namun, ada paradoks dalam budaya perbincangan di media sosial. Seseorang yang terus-menerus dibicarakan akan tetap berada dalam perhatian publik, bahkan ketika sebagian pembicaraan itu bernada negatif.
Mereka yang rajin mengikuti, mengawasi, dan mengomentari setiap gerak-geriknya bisa saja tanpa sadar ikut memperluas jangkauan namanya.
Dalam dunia komunikasi, perhatian adalah sumber daya. Niat seseorang untuk menjatuhkan belum tentu menghasilkan dampak yang sesuai dengan keinginannya.
Gara-gara Gibran, kita mendapat satu pelajaran menarik: kebencian mungkin tidak selalu berubah menjadi kekaguman, tetapi perhatian yang terus-menerus bisa menjadi promosi gratis. Kadang, orang yang paling bersemangat membuat seseorang tenggelam justru ikut menjaga namanya tetap mengapung.(Sizuka)

