Di Pulau Untung Jawa, perjalanan air limbah tidak berhenti ketika meninggalkan rumah warga. Air itu masuk ke sistem pengolahan, melewati sejumlah tahapan, lalu kembali dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan kebun sayur. Dari sesuatu yang dianggap sisa, lahir kembali sesuatu yang menghidupi.
Kepulauan Seribu, Jakarta (Rumah Simbah)-Air limbah rumah tangga biasanya dianggap selesai ketika mengalir meninggalkan rumah. Padahal, bagi lingkungan, perjalanan air itu belum berakhir.
Di Pulau Untung Jawa, air bekas dari berbagai aktivitas warga dialirkan menuju Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) untuk menjalani proses pengolahan sebelum kembali ke lingkungan.
Koordinator SPALD Pulau Untung Jawa, Rahmat Ayudi, menjelaskan rangkaian pengolahan tersebut, mulai dari aliran air limbah dari rumah warga melalui pipa bawah tanah masuk ke tangki, hingga melewati sejumlah tahapan pengolahan sebelum menghasilkan air olahan.
Proses itu menunjukkan bahwa sesuatu yang semula dianggap sebagai sisa masih memiliki perjalanan dan fungsi baru.
Salah satu ujung perjalanan air hasil olahan dapat dilihat di belakang kantor SPALD. Air tersebut dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, termasuk kebun sayuran yang tumbuh di area tersebut.
Rangkaian panjang itu menghadirkan sebuah gambaran tentang pengelolaan lingkungan di wilayah kepulauan.
Di pulau kecil, ruang untuk membuang sesuatu lalu melupakannya memang terbatas. Karena itu, mengurus limbah menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga tempat tinggalnya.
Kemajuan sebuah pulau pun tidak selalu harus dibaca dari bangunan baru, fasilitas yang bertambah, atau kawasan yang semakin tertata. Ia juga dapat terlihat dari cara masyarakat memperlakukan sesuatu yang tersisa dari aktivitas sehari-hari.
Dari rumah menjadi limbah. Dari limbah diolah. Lalu kembali dimanfaatkan untuk kehidupan.(Sizuka)




