Ikan sapu-sapu dan cara kita memperlakukan “hama”

Ikan sapu-sapu kembali menjadi sorotan setelah video penangkapan dan pembasmian massalnya menjadi pemberitaan luas. Di satu sisi, ikan ini dikenal sebagai spesies invasif yang dianggap mengganggu ekosistem perairan. Namun di sisi lain, cara pembantaiannya memunculkan pertanyaan etik: sampai di mana manusia boleh memperlakukan makhluk hidup yang telah dicap sebagai “hama”?

Bantul, DIY (Rumah Simbah)-Ikan sapu-sapu kembali menjadi perbincangan publik. Di berbagai lokasi perairan ikan sapu-sapu diburu, dijaring, lalu diangkut ke darat untuk dibantai.

Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin dianggap biasa saja. Sebab ikan sapu-sapu selama ini dikenal sebagai spesies invasif yang merusak ekosistem perairan.

Ikan yang awalnya populer sebagai “pembersih akuarium” ini memang bukan spesies asli Indonesia, ia berasal dari Sungai Amazon di Amerika Selatan. Ketika terlepas ke alam liar, ia berkembang sangat cepat. Tubuhnya kuat, tahan hidup di air kotor, dan mampu bertahan di lingkungan yang sudah tercemar.

Dalam banyak kasus, ledakan populasi ikan sapu-sapu dianggap mengancam ikan lokal serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Karena itulah berbagai upaya pengendalian populasi dilakukan di sejumlah daerah.

Namun persoalannya bukan semata soal perlu atau tidaknya pengendalian populasi. Yang memunculkan perdebatan adalah cara pembasmian yang terkesan brutal dan kehilangan sisi kemanusiaan.

Di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah makhluk hidup yang telah dicap sebagai “hama” otomatis kehilangan hak untuk diperlakukan dengan belas kasih?

Ironisnya, keberadaan ikan sapu-sapu sendiri tidak lepas dari campur tangan manusia. Manusia yang memasukkannya ke lingkungan baru. Manusia pula yang merusak banyak ekosistem sungai. Namun ketika spesies itu berhasil bertahan hidup di lingkungan yang rusak, ia justru menjadi objek kebencian.

Barangkali persoalan ini bukan hanya tentang ikan sapu-sapu. Tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan kehidupan ketika rasa iba mulai dianggap tidak penting lagi.(Boim)

Leave a Reply