Ada hal-hal kecil dalam keseharian yang sering kita anggap sepele, padahal dampaknya bisa menetap lama di perasaan seseorang. Salah satunya: cara kita memanggil nama orang lain. Bukan soal benar atau salah secara administrasi, melainkan soal rasa dihargai sebagai manusia. Ulasannya tersaji dalam video berikut:

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Cara paling sederhana untuk menyenangkan seseorang sering kali tidak membutuhkan usaha besar. Tidak perlu hadiah, tidak perlu pujian berlebihan. Cukup satu hal kecil: memanggilnya dengan cara yang ia sukai.
Nama bukan sekadar identitas administratif. Ia membawa sejarah, pengalaman, dan rasa. Ada orang yang nyaman dipanggil dengan nama panggilan tertentu, ada yang lebih senang disebut nama lengkapnya, dan ada pula yang cukup dipanggil dengan nada yang hangat dan sopan. Pilihan itu sederhana, tetapi dampaknya terasa nyata.
Karena itu, ketika seseorang sudah menyampaikan bagaimana ia ingin dipanggil, sebetulnya persoalannya selesai. Kita tinggal mengikuti. Namun dalam praktiknya, tidak selalu begitu. Bahkan panggilan yang tidak disukai tetap diulang, seolah preferensi pribadi tak cukup penting untuk dihormati.
Di titik ini, panggilan bukan lagi soal lupa atau salah sebut. Ia bisa sedang “bilang sesuatu”. Bisa jadi tentang kuasa—siapa yang merasa berhak menentukan. Bisa juga tentang keengganan menyesuaikan diri, atau meremehkan kenyamanan orang lain. Ada kalanya panggilan digunakan untuk menjaga jarak, bahkan melampiaskan sesuatu yang tak terucap.
Semua itu sering hadir dalam bentuk yang sangat halus. Legal. Tidak kasar. Mudah dibantah dengan kalimat, “kan cuma nama.” Padahal, jika memang cuma nama, seharusnya tidak sulit untuk memanggil seseorang dengan cara yang membuatnya nyaman.
Di ruang-ruang profesional, hal ini kerap terjadi tanpa disadari. Orang-orang yang terdidik, paham etika komunikasi, namun tetap abai pada hal paling mendasar: menghormati pilihan personal orang lain.
Ironisnya, justru di situlah kualitas relasi diuji—bukan pada teori yang dikuasai, melainkan pada adab yang dipraktikkan.
Mungkin dunia tidak kekurangan orang pintar. Tetapi sering kali, dunia kekurangan orang yang pandai menghormati. Padahal, menyesuaikan panggilan bukan bentuk kelemahan. Ia adalah cara kecil untuk memanusiakan.
Pada akhirnya, panggilan sayang—dalam arti seluas-luasnya—adalah pilihan sikap.
Panggillah seseorang sebagaimana ia ingin dipanggil.(Sizuka)

