Belajar pintar mendengar

Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga. Sebuah isyarat sederhana, bahwa mendengar seharusnya mendapat porsi lebih besar daripada berbicara. Namun dalam keseharian, tak sedikit orang justru terjebak pada kebiasaan sebaliknya: bicara tanpa jeda, mendengar sekadarnya.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga. Susunan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam. Seolah ada pengingat halus bahwa manusia seharusnya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mendengar bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan proses batin untuk memahami dunia di luar dirinya sendiri.

Dari mendengar, manusia memperoleh pengayaan. Perspektif orang lain memperluas cara pandang, menguji keyakinan, dan sering kali meluruskan asumsi yang terlalu percaya diri. Mendengar adalah pintu masuk bagi kebijaksanaan, karena di sanalah kita belajar bahwa pengalaman hidup tidak hanya berputar di sekitar kepala dan perasaan kita sendiri.

Masalah muncul ketika kebiasaan mendengar mulai ditinggalkan. Ada orang yang terlalu dominan berbicara, bahkan dalam ruang yang seharusnya menjadi dialog. Pembicaraan berjalan satu arah. Ia ingin dipahami, tetapi enggan memahami. Ia menuntut didengarkan, tanpa pernah benar-benar menyediakan telinga.

Dalam situasi seperti ini, berbicara tidak lagi menjadi alat komunikasi, melainkan panggung ego. Setiap pandangan berbeda dianggap ancaman. Setiap koreksi terasa seperti serangan. Dari sinilah sering lahir sosok yang akrab kita temui dalam keseharian: tukang ngeyel. Bukan karena ia paling benar, melainkan karena ia tidak siap menerima kemungkinan bahwa dirinya bisa keliru.

Sikap ngeyel kerap disalahartikan sebagai keteguhan prinsip. Padahal, perbedaannya jelas. Orang yang teguh masih mau mendengar, lalu memilih. Sementara orang yang ngeyel menutup telinga sejak awal, dan bersikeras menang dalam setiap percakapan.

Konsekuensinya jarang disadari. Orang-orang di sekitarnya perlahan lelah. Bukan karena membenci, tetapi karena tidak pernah merasa benar-benar didengar. Interaksi menjadi melelahkan, kehadiran terasa berat, dan jarak pun tercipta dengan sendirinya.

Pada akhirnya, orang yang tak mau mendengar sering berakhir dalam kesepian. Bukan karena dunia menjauhinya, melainkan karena ia lebih dulu menutup telinganya sendiri.(Siz)

Leave a Reply