Saat haus dijadikan ladang bisnis

Ada masa, kita minum bukan karena haus, tapi karena takut belum sampai dua liter. Botol dihitung, gelas diawasi, seolah-olah tubuh ini bisa dimarahi kalau kurang minum.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Ada masa ketika rasa haus adalah sinyal paling jujur dari tubuh. Ia datang pelan, sederhana, dan langsung dipahami: minum.

Namun hari ini, haus tidak lagi sesederhana itu. Ia ditemani angka, botol, dan pesan berulang: dua liter sehari.

Anjuran itu terdengar ilmiah, masuk akal, dan menenangkan. Masalahnya bukan pada angkanya, melainkan pada cara pesan itu dipersempit.

Dalam banyak iklan, dua liter seolah harus dipenuhi dengan satu jenis cairan saja: air mineral kemasan. Seakan-akan tubuh manusia hanya mengenal satu pintu masuk hidrasi, dan pintu itu berlabel.

Di titik inilah, kebutuhan biologis mulai bergeser menjadi peluang bisnis.

Tubuh manusia, dalam ilmu fisiologi, tidak bekerja berdasarkan merek. Yang ia butuhkan adalah cairan—air yang menjaga suhu, melancarkan metabolisme, dan menopang fungsi organ.

Cairan itu datang dari berbagai sumber: air minum, tentu saja, tetapi juga dari kuah sayur, buah-buahan yang kaya air, minuman hangat, bahkan makanan sehari-hari.

Dalam kajian gizi, sekitar 20 hingga 30 persen kebutuhan cairan harian justru berasal dari makanan. Sup, sayur, buah, dan menu rumahan lain ikut menyumbang hidrasi. Fakta ini jarang muncul dalam iklan, bukan karena salah, melainkan karena tidak ekonomis untuk dijual.

Air putih tetap penting. Tidak ada yang menyangkal itu. Namun menjadikannya seolah satu-satunya jalan menuju tubuh sehat adalah penyederhanaan yang berlebihan. Penyederhanaan semacam ini efektif dalam pemasaran, tetapi berisiko dalam pemahaman publik.

Ketika pesan kesehatan terlalu sering disampaikan lewat iklan, batas antara edukasi dan promosi menjadi kabur. Masyarakat lalu belajar mengukur sehat tidak dari tubuhnya sendiri, melainkan dari target konsumsi yang dipatok dari luar. Gelas dihitung, botol ditambah, rasa haus diabaikan. Minum bukan lagi respons, melainkan kewajiban.

Padahal tubuh memiliki indikator yang jauh lebih jujur daripada slogan. Rasa haus, warna urin, sensasi segar atau lelah—semua itu adalah bahasa biologis yang telah bekerja ribuan tahun sebelum industri kemasan lahir. Tubuh tidak pernah meminta dua liter. Ia meminta cukup.

Masalah muncul ketika “cukup” didefinisikan secara seragam, tanpa mempertimbangkan kondisi tiap orang. Kebutuhan cairan dipengaruhi banyak hal: usia, aktivitas, suhu lingkungan, pola makan, hingga kondisi kesehatan. Orang yang banyak bergerak di bawah terik matahari tentu berbeda kebutuhannya dengan mereka yang bekerja di ruang berpendingin udara. Namun iklan tidak punya ruang untuk nuansa. Ia butuh pesan tunggal yang mudah diingat.

Di sinilah haus pelan-pelan berubah menjadi komoditas. Ketakutan akan kurang minum dipelihara. Kekhawatiran dibuat sederhana: belum dua liter berarti belum sehat. Dan ketika sehat dipersempit menjadi angka, maka solusi pun dijual dalam bentuk produk.

Fenomena ini bukan semata soal air minum. Ia bagian dari pola yang lebih luas, ketika gaya hidup sehat dikemas sebagai rutinitas konsumsi. Sehat tidak lagi diawali dengan mendengar tubuh, melainkan dengan membeli sesuatu. Kita diajak percaya bahwa keseimbangan bisa diraih lewat transaksi.

Meluruskan hal ini bukan berarti menolak produk, apalagi menyalahkan konsumen. Air mineral kemasan memiliki peran penting, terutama dalam akses air bersih yang aman. Yang perlu dikritisi adalah cara pesan kesehatan dipahami dan diserap secara mentah.

Literasi kesehatan publik menuntut kita untuk membedakan antara kebutuhan tubuh dan narasi pasar. Tubuh butuh cairan, bukan kepanikan. Ia butuh kesadaran, bukan target botol. Ia bekerja paling baik ketika kita mau mendengarkan, bukan sekadar mengikuti.

Mungkin sudah waktunya kita mengembalikan rasa haus ke tempat asalnya: sebagai sinyal, bukan komoditas. Sebagai pengingat untuk berhenti sejenak, meneguk secukupnya, dan percaya bahwa tubuh—jika diberi ruang—tahu caranya pulang ke seimbang.(Zee)

Leave a Reply