Bali tampak hidup dan meriah. Namun sebagian warganya pelan-pelan tersisih di kampung sendiri. Ulasan tentang kondisi ini, tersaji dalam tayangan video berikut:

Badung, Bali (Rumah Simbah)-Bali hari ini semakin ramai. Namun sebagian warganya pelan-pelan tersisih di kampung sendiri.
Pariwisata terus tumbuh. Angka kunjungan naik, hotel dan vila menjamur, kafe penuh hingga malam. Dari luar, Bali tampak bergerak, hidup, dan menjanjikan. Ekonomi disebut berdenyut, roda usaha berputar, dan sektor wisata kembali dielu-elukan sebagai penopang utama.
Namun di balik keramaian itu, ada perubahan yang jarang dirayakan. Ruang hidup warga justru kian menyempit.
Tanah yang dulu menjadi pekarangan keluarga, kini berubah menjadi papan proyek. Rumah beralih fungsi menjadi homestay atau usaha wisata. Sawah yang dahulu menjadi sumber penghidupan, perlahan tergeser oleh tembok dan beton. Kampung tidak lagi sekadar ruang tinggal, melainkan bagian dari perhitungan ekonomi.
Bagi pendatang, Bali terasa menjanjikan. Bagi sebagian warga, Bali mulai terasa asing.
Pariwisata tumbuh sebagai ruang usaha yang agresif, sementara ruang hidup warga harus bernegosiasi, beradaptasi, bahkan mengalah. Harga tanah melonjak, biaya hidup naik, dan pilihan untuk bertahan di kampung sendiri semakin terbatas.
Kondisi ini bukan soal menolak wisata. Bali telah lama hidup berdampingan dengan pariwisata. Yang dipertanyakan adalah keseimbangan. Ketika ruang usaha berkembang tanpa kendali, sementara ruang hidup tidak dilindungi, ketimpangan menjadi keniscayaan.
Saat kampung berubah menjadi komoditas, warganya sering kali berada di posisi paling lemah. Mereka yang tidak punya cukup modal dipaksa menyesuaikan diri, pindah, atau menerima perubahan yang tak selalu mereka kehendaki.
Bali semakin ramai. Namun di tengah geliat itu, ada warga yang perlahan tersisih di kampung sendiri.(Siz)

