Tawa sering kali datang tanpa rencana. Ia muncul dari cipratan air, langkah ragu di tepi kolam, atau gerakan joget yang awalnya cuma iseng. Di Wahana Air Cigwa, kegembiraan tidak perlu dikonsepkan—cukup datang, basahi kaki, dan biarkan suasana bekerja dengan sendirinya.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Cuaca terasa bersahabat saat Wahana Air Cigwa dipenuhi pengunjung. Hujan yang sempat turun telah reda, menyisakan udara hangat yang nyaman.
Matahari bersinar seperlunya—cukup untuk menerangi kolam, tanpa membuat siapa pun tergesa mencari teduh. Sejak dari pintu masuk, suasana sudah terasa hidup: suara air, tawa anak-anak, dan obrolan santai bersahut-sahutan.
Di area depan kolam renang, meja dan kursi diisi sejumlah pengunjung yang memilih menunggu dari luar. Ada yang mengawasi anak-anak bermain, ada pula yang sekadar menikmati suasana.
Begitu mendekat ke kolam, pemandangan semakin ramai. Patung kura-kura yang memancurkan air menjadi magnet tersendiri, seolah turut berceloteh lewat bahasa percikan.
Aktivitas di kolam berlangsung beragam. Anak-anak bermain di area dangkal, orang dewasa berenang santai, sementara beberapa pengunjung baru tampak melakukan pemanasan. Ada yang mencelupkan kaki perlahan, memastikan suhu air, lalu berpindah ke air mancur di depan ruang bilas.
Berdiri di bawah guyuran air, mereka tertawa kecil—seolah sedang berkenalan kembali dengan air sebelum benar-benar berenang.
Di sisi lain, wahana perosotan menjadi panggung kecil bagi drama keberanian. Dari bawah, kamera mengarah ke mulut perosotan, menunggu momen meluncur. Beberapa perenang sudah terlihat siap di atas, namun tak kunjung turun. Pegangan tangan masih lebih kuat dari dorongan adrenalin. Hingga akhirnya satu dua orang meluncur, disusul cipratan air dan sorak spontan dari sekitarnya.
Tak jauh dari sana, wahana ember besar berdiri di ketinggian. Setiap beberapa menit sekali, ember itu menumpahkan air dalam jumlah besar, menciptakan kejutan yang selalu dinanti.
Anak-anak menunggu tepat di bawahnya, sementara yang lain memilih menonton dari pinggir, tertawa melihat kepanikan yang menyenangkan.
Keceriaan juga hadir dalam bentuk sederhana. Dua pria dewasa tampak berlomba renang secara iseng—tanpa juara, tanpa piala.
Di sudut lain, ada yang memulai berenang dengan joget singkat di pinggir kolam, lalu berenang dengan gaya seadanya. Musik yang terdengar dari pinggir kolam ternyata berasal dari sekelompok emak-emak yang sedang senam bersama, menularkan semangat pada siapa pun yang melihat.
Wahana Air Cigwa bukan hanya tempat bermain air. Ia menjadi ruang lepas bagi tawa-tawa kecil, gerakan spontan, dan kegembiraan yang tidak direncanakan. Di sini, kesenangan hadir apa adanya—mengalir bersama air, lalu pulang sebagai kenangan sederhana yang hangat.(Sizuka)

