Lapangan Sempol, Desa Pererenan, Mengwi, Badung, Bali, dipadati warga pada malam menjelang Hari Raya Nyepi. Pawai Ogoh-ogoh yang melibatkan antar banjar ini tidak hanya menghadirkan arak-arakan patung raksasa, tetapi juga pertunjukan sendratari serta ajang kreativitas masyarakat setempat.

Badung, Bali (Rumah Simbah)-Lapangan Sempol di Desa Pererenan, Mengwi, Badung, Bali, menjadi pusat keramaian warga pada malam menjelang Hari Raya Nyepi. Ratusan warga berkumpul untuk menyaksikan pawai Ogoh-ogoh yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Pengerupukan.
Di tengah lapangan, sebuah panggung pertunjukan turut menghadirkan berbagai sendratari. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga medium penyampaian nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Gerak para penari yang berpadu dengan iringan gamelan menciptakan suasana yang hidup dan sarat makna.
Sementara itu, ogoh-ogoh diarak secara bergantian oleh masing-masing banjar. Patung-patung raksasa dengan bentuk ekspresif tersebut dibuat dengan detail tinggi, mencerminkan kreativitas serta kerja kolektif warga. Arak-arakan berlangsung meriah, diiringi langkah kompak dan semangat kebersamaan.
Menariknya, kegiatan ini juga menjadi ajang penilaian antar banjar. Setiap kelompok berupaya menampilkan karya terbaiknya, mulai dari konsep visual, detail ukiran, hingga karakter yang dihadirkan. Namun, lebih dari sekadar kompetisi, pawai ini menjadi ruang ekspresi sekaligus kebanggaan kolektif masyarakat.
Dalam tradisi Bali, ogoh-ogoh merepresentasikan sifat-sifat negatif manusia yang ingin dilepaskan. Melalui prosesi ini, masyarakat diajak untuk merefleksikan diri sebelum memasuki Hari Raya Nyepi yang identik dengan suasana hening dan perenungan.
Pawai ogoh-ogoh di Pererenan menjadi gambaran bagaimana tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dihidupkan melalui partisipasi aktif masyarakat. Malam yang semarak ini pun menjadi penanda bahwa sebelum memasuki sunyi, ada proses yang perlu dituntaskan bersama.(Vic)

