Kemeriahan Parade Ogoh-ogoh di Pererenan, Mengwi, Badung – Bali (28/3). (Rumah Simbah/Vic)
Parade Ogoh-ogoh di berbagai lokasi dan daerah menjadi gelaran yang ditunggu-tunggu tidak hanya bagi umat Hindu, tetapi juga masyarakat agama lain untuk menikmati atraksi kemeriahannya. Video berikut menampilkan Parade Ogoh-ogoh yang berlangsung di Lapangan Sempol Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi, Badung – Bali.
Badung, Bali (Rumah Simbah)-Hari ini (Sabtu, 29/3) mulai pukul 06.00 WITA umat Hindu di Bali melaksanakan Nyepi tahun baru Saka 1947 dengan suasana hening, sunyi, dan tanpa aktivitas kehidupan di luar rumah. Puasa selama 24 jam disertai berhenti berkegiatan itu akan berakhir besok (Minggu, 30/3) pagi pada jam yang sama.
Sehari sebelum nyepi, suasana Pulau Dewata dimeriahkan dengan Parade Ogoh-ogoh yang berlangsung di berbagai titik lokasi dan daerah, salah satunya yang berlangsung di Desa Pererenan.
Terdapat panggung besar di tengah lapangan dengan berbagai pementasan seni yang disajikan oleh ST. Dharma Kerthi, seperti Raja Gandhara Sengkuni.
Sedangkan acara utama yaitu Parade Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh adalah patung berukuran raksasa dengan wujud beraneka rupa, yang dibuat menggunakan material ringan sejenis kertas yang mudah terbakar.
Selain tubuh besar, sosok ogoh-ogoh biasanya digambarkan detail dengan kuku panjang, bertaring, wajah seram, dan rambut berantakan tak beraturan.
Perwujudan itu dibuat sebagai simbol bhuta kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, bhuta kala ialah istilah untuk merepresentasikan kekuatan alam semesta dan waktu yang begitu besar.
Pawai Ogoh-ogoh mengandung unsur pengharapan dan do’a untuk kebaikan alam, juga sebagai pemersatu masyarakat karena ada gotong-royong dalam pembuatannya dan kebersamaan dalam perayaan.
Sementara bagi para wisatawan dan pendatang, Parade Ogoh-ogoh menjadi atraksi hiburan yang ditunggu-tunggu setiap tahun karena kemeriahan dan keseruannya. (Vic)


