Cinta satwa, cinta Sang Pencipta

Sebuah papan pesan di gerbang Kampung Satwa Kedung Banteng, Sleman, Yogyakarta, mengandung ajakan yang tak biasa bagi sebuah destinasi wisata:”Cintai satwa sebagai wujud cintamu pada Sang Pencipta.”. Kalimat itu mengubah cara pengunjung memandang tempat ini. Bukan sekadar wisata melihat hewan, melainkan perjalanan kecil untuk kembali menyadari makna hidup berdampingan dengan makhluk lain.

Sleman, DIY (Rumah Simbah)-Sebuah papan pesan terpampang di gerbang Kampung Satwa Kedung Banteng di wilayah Sleman, Yogyakarta. Tulisan yang tertera di sana terasa seperti pesan panjang bagi setiap orang yang datang.

“Cintai satwa sebagai wujud cintamu pada Sang Pencipta”.

Kalimat itu seolah mengubah cara pengunjung memandang tempat ini. Kampung Satwa Kedung Banteng memang dikenal sebagai destinasi wisata edukasi satwa yang berkembang dari inisiatif warga. Di berbagai sudut kampung, pengunjung dapat melihat beragam satwa yang dipelihara dan dirawat oleh masyarakat setempat.

Namun, pesan di gerbang kampung itu memberi makna yang lebih dalam dari sekadar wisata melihat hewan.

Biasanya orang datang ke tempat satwa untuk mencari hiburan. Anak-anak ingin melihat kelinci, burung, atau kura-kura. Orang dewasa datang untuk berjalan santai sambil menikmati suasana kampung yang teduh.

Tetapi kalimat di gerbang kampung ini seperti mengajak setiap orang berhenti sejenak dan berpikir.

Jika manusia mengaku mencintai Sang Pencipta, bagaimana ia memperlakukan ciptaan-Nya?

Di sini satwa tidak lagi sekadar menjadi tontonan. Kehadiran mereka menjadi pengingat kecil tentang kehidupan yang berjalan bersama di bumi yang sama.

Kampung Satwa Kedung Banteng juga menghadirkan gambaran sederhana tentang hidup berdampingan. Di sela rumah-rumah warga, satwa dipelihara bukan hanya sebagai koleksi, melainkan juga bagian dari upaya mengenalkan pentingnya menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Wisata yang tumbuh dari masyarakat ini perlahan menjadi ruang belajar, terutama bagi anak-anak, tentang bagaimana manusia dapat berbagi ruang dengan makhluk lain.

Karena itu, perjalanan ke kampung ini mungkin tidak hanya meninggalkan kenangan rekreasi. Di balik langkah-langkah menyusuri gang kampung dan melihat berbagai satwa, pengunjung juga diajak merenungkan satu hal sederhana. Bahwa menyayangi makhluk kecil sering kali adalah cara paling sunyi untuk belajar mencintai kehidupan.(Sizuka)

Si cantik yang jadi salah satu penghuni di Kampung Satwa. (Rumah Simbah/Boim)
Buaya pun turut tinggal di antara permukiman warga. (Rumah Simbah/Boim)
Adapula kura-kura yang menyapa kamera pengunjung. (Rumah Simbah/Boim)

Leave a Reply