Sepotong cerita di balik Konser “Kangen Betawi”

Sorot lampu belum menyala penuh, musik belum dilepas ke udara. Namun di Gedung PPSB Kisam Bin Djiun, Jakarta Timur, denyut sebuah konser sudah terasa sejak gladi resik. Di sanalah Konser Tari Kangen Betawi mulai menemukan bentuknya—pelan, riuh, dan penuh cerita kecil yang jarang terlihat penonton. Berikut video keseruan gladi resik itu:

Duren Sawit, Jaktim (Rumah Simbah)-Gladi resik Konser Tari Kangen Betawi memperlihatkan wajah lain dari sebuah pertunjukan seni: proses.

Di atas panggung, pelatih tari dan Kepala Sanggar Jelita berdiri, mendengarkan arahan MC, menandai dimulainya latihan terakhir sebelum hari pementasan.

Di balik panggung, suasana tidak seragam. Di satu ruang latihan, sebagian penari cilik tampak serius mengulang gerakan. Di ruang lain, beberapa anak justru asyik bermain. Bukan tanpa alasan—bagi anak-anak, itu bisa menjadi cara agar merasa rileks sebelum tampil di hadapan banyak orang.

Di depan cermin, latihan berlangsung lebih sunyi. Gerakan diulang, posisi dibenahi. Tubuh-tubuh kecil belajar disiplin, mengenali ruang, dan menyelaraskan diri dengan irama. Pelan-pelan, tarian dibangun dari kesalahan yang diperbaiki berulang kali.

Menjelang naik panggung, suasana berubah riuh. Anak-anak bergerak dari ruang latihan menuju lorong panggung. Mereka antre rapi, menunggu giliran. Di atas panggung, pelatih bersuara lantang mengarahkan formasi dan gerakan.

Di sisi lain, panitia konser berdiri melingkar, berdiskusi, memastikan detail demi detail berjalan sesuai rencana.

Sejumlah penari sempat dimintai cerita tentang perasaan mereka menjelang tampil. Senang dan bangga—semua bercampur. Mereka lalu diminta memperagakan sedikit tarian yang akan ditampilkan saat konser.

Latihan berlangsung serius, namun sesekali diselingi momen jenaka. Di depan panggung, dua anak kecil menirukan gerakan para penari dengan cara mereka sendiri—lebih heboh, lebih polos—menghadirkan tawa kecil di tengah ketegangan.

Gladi resik ditutup dengan seluruh calon penampil duduk bersama di atas panggung. Pengasuh memberi semangat agar mereka tampil percaya diri dan memberikan yang terbaik.

Konser belum dimulai. Namun dari gladi resik ini, satu hal sudah jelas: Kangen Betawi bukan hanya soal hasil di atas panggung, melainkan tentang proses panjang yang dirawat bersama—dengan gigih dan sepenuh hati.(Anistasia)

Bermain saja dulu, agar pentas tak jadi beban. (Rumah Simbah/Anistasia)
Latihan dulu, biar tampil maksimal di panggung. (Rumah Simbah/Anistasia)
Ada yang latihan serius di atas panggung, ada pula yang heboh meniru jadi gambar latar depan.(Rumah Simbah/Anistasia)

Leave a Reply