Pengalaman bermalam di tepi danau Cigwa

Kesendirian di alam sering dibayangkan sunyi dan sepi. Namun di tepi danau Cigwa, kesunyian itu justru berubah menjadi perjumpaan-perjumpaan kecil yang hangat: tetangga tenda, suara tawa, hingga makan malam sederhana yang lahir dari proses panjang melawan cuaca.

Bogor, Jabar (Rumah Simbah)-Hujan yang sempat turun tanpa kompromi perlahan mereda. Siang bergeser, dan suasana di tepi danau Cigwa tak lagi sepenuhnya sunyi. Satu rombongan pengunjung lain datang, mendirikan tenda, dan menjadikan danau ini ruang bersama. Kesendirian pun berubah menjadi kebersamaan sederhana—cukup dengan saling menyapa sebagai tetangga tenda.

Mendirikan tenda di tengah cuaca yang tak menentu telah menguras cukup banyak tenaga. Maka, waktu pun beralih pada satu aktivitas yang hampir selalu menjadi pusat cerita dalam camping: memasak. Dengan perabot minimalis, menu tetap diupayakan lengkap. Ada sayur, ada lauk, dan tentu saja sambal segar yang menjadi penggugah selera. Di alam terbuka, makan bukan sekadar mengisi perut, melainkan bagian dari pemulihan tenaga dan suasana hati.

Pemandangan makan siang hari itu terasa istimewa. Di atas danau, sepasang sejoli mengayuh perahu berbentuk bebek dengan santai. Gerak mereka pelan, seolah waktu di tempat ini berjalan dengan ritme berbeda. Cuaca tak selalu bersahabat, tetapi keceriaan tetap menemukan jalannya.

Keberadaan tetangga tenda membawa kejutan kecil lainnya. Sebuah konser mini dadakan pun hadir—karaoke sederhana tanpa panggung, tanpa tata suara mewah, namun cukup untuk menghidupkan sore. Tawa dan nyanyian mengalir bebas, menyatu dengan udara pegunungan yang mulai dingin.

Menjelang sore, suhu yang menurun memunculkan keinginan untuk menyeruput kopi hangat. Sayangnya, teko unik oleh-oleh dari Dubai yang dibawa justru terlalu mungil untuk duduk stabil di atas kompor. Sebuah rencana kecil yang tak berjalan mulus, namun tak mengurangi rasa menikmati suasana. Tidak semua hal harus sempurna untuk bisa dinikmati.

Memancing menjadi alasan utama memilih lokasi camping di tepi danau. Persiapan dilakukan pelan-pelan: memasang umpan, merapikan kail, lalu menunggu dengan sabar. Sambil menanti hasil, area sekitar danau dieksplor. Keuntungan camping saat tak terlalu ramai adalah kebebasan menggunakan fasilitas. Kamar mandi dengan air panas menjadi kemewahan kecil yang sangat berarti di tengah udara dingin.

Tak jauh dari sana, terdapat lintasan gokart. Dari area ini, pemandangan danau terlihat utuh: dua tenda di tepi air, dikelilingi lanskap hijau, dengan orang-orang yang memilih tetap berlibur tanpa terlalu memedulikan cuaca. Suara bocah-bocah yang meluncur di wahana flying fox menambah warna pada sore hari.

Ketika kembali ke tenda, kabar baik menunggu. Ikan pertama akhirnya tersangkut di kail. Tak lama kemudian, beberapa ikan lain ikut menyusul. Ada yang dengan tekun berusaha mencari lauk untuk makan malam, meski hasilnya tak seberapa. Untungnya, selalu ada bahan cadangan.

Kesibukan pun berpindah ke dapur depan tenda. Menggoreng, memanggang, dan menyiapkan makan malam dari bahan-bahan sederhana, termasuk lima ekor ikan mujair yang masih kecil. Makan malam itu terasa istimewa, bukan karena harganya, melainkan karena proses panjang yang menyertainya—dari hujan, menunggu, hingga kerja sama kecil yang tercipta secara alami.

Malam ditutup dengan perut kenyang dan suasana yang kembali tenang. Api meredup, suara danau perlahan mendominasi. Aktivitas seru di kawasan Cigwa belum selesai. Esok hari masih menyimpan cerita lain yang menunggu untuk dipamerkan.(Sizuka)

Leave a Reply